Journal Week 5 (and 4)

Better Late than never, i tried to write also journal 4 here.

Di Jurnal 4 saya terlewat untuk posting, karena beberapa kendala sehingga benar-benar lepas kontrol urusan yang lain. Suami sakit setelah kehujanan dan 2 minggu sebelumnya sempat ke kantor ada urusan sebentar sekali. Yah namapun di saat krisis covid 19 ini tentu saja parnonya ga ketulungan.

Jangan ditanya bagaimana perasaan emosional dan campur aduk melihat suami sakit yang ga seperti biasa. Seperti ambruk banget, kelelahan, banyak pikiran terus kuperhatikan ada kulit yang menguning. Jadi panik kan, apa hepatitis, typhus atau DB astaghfirullah…

Cek lidah oke, demam memang tinggi tapi bisa turun. Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih seger dan sehat. Kalo udah bisa usilin istrinya di dapur berarti dah sehat pake banget  >o<”

Yang bikin stress tuh, ingin makan tapi ga lapar aja, jadinya rada kurusan gitu. Hadududu…. Mending dia sehat gemukan deh gemes daripada sakit kurus qiqiqi

Baiiik, prolognya panjang amat…
Di minggu ini walaupun jurnal kelewat posting tapi interaksiku dengan mentee tetep berjalan dong, alhamdulillah^^…
Sempet kelewat dari jadwal mentoring, namun tetap on track. Dan aku pun meminta maaf dan mohon pengertiannya karena kondisi kesehatan keluarga. Alhamdulillah mereka sangat pengertian sekaliiii dan tanggap serta tetap bersemangat dalam kegiatan mentoring^^. Terimakasih mba Dita dan mba Anita

Dari pengertian dan tetap semangat ber mentor ria ini aku bisa proyeksikan bahwasannya hubungan kami baik^^, semoga seterusnya bisa saling menyemangati untuk lebih baik in shaa Allah…

Dalam mentoringku di Photography, aku memberikan challenge untuk kami (ya saya dan mentee) untuk membahas foto dan behind the scene yang kami ambil. Sehingga akan terlihat „apa yang kami butuhkan“ dan „apa yang terus ditingkatkan“ , karena sejatinya bidang ini bukan hanya skala teori melainkan practices make perfect !!

Di bawah ini bisa dilihat foto-foto para mentee ku untuk memenuhi challenge…
mba Anita progressnya baik sekali dan sudah mulai mempraktekkan teori-teori yang dikuasai. Dan top banget buat mba Dita yang mengirimkan foto lebih banyak, hasil dari belajar lagi kursus online lagi dengan yang lain. Mba Dita juga menceritakan beberapa materi yang diperolehnya di kelas, sehingga harapan beliau bisa faham basic photography dan bersamaku memoles kembali kemampuan tersebut menjadi lebih baik.

Gimana-gimana? Pada semangat banget kan. Kalo begini tentu saja aku pun ikutan bersemangat^^

Nah untuk kelas pempek, minggu ini sedang sharing bagaimana membuat pempek kulit yang ternyata aha banget!! Aku sudah 2x praktek pempek kulit ini, namun belum seperti yang aku inginkan. Kali ini aku belum memulai praktek, karena belum sempat pesan daging ikan giling beserta kulit, in shaa Allah minggu depan, tunggu tanggal gajian hahaha  >o<

Sebagai ganti, sebisa mungkin aku bantu mentorku jawab pertanyaan teman-teman karena jujur saja di minggu awal mentor memberikan tips, aku latihan sudah dengan 10 kg daging ikan giling 😀
Harap maklum, pulang dari Jerman kalap sama ikan tenggiri yang rasanya aduhaaaiii lemaknyooo ^

Lanjut ke progress Jurnal 5

Di sini aku mencoba untuk mereview kembali tujuan awal dalam mentoring yang aku ikuti. Apakah goal yang diharapkan tercapai atau belum bergerak sama sekali. Apakah beriringan dengan mind map yang ada atau belum juga?

Nah, sejak memulai belajar membuat makanan ini, aku juga jadi bersemangat meal prep, snack prep dan main course prep. Makanan ini aku prioritaskan bukan karena “urusan perut” merasa penting tapi karena hal ini adalah yg utama di rumah. Ibaratnya 1 orang untuk 5 mulut. Aku ingin tetap menikmati hariku membaca buku, membaca quran dan banyak aktivitas lainnya yang membuat diri ini bahagia dan bermanfaat. Tidak melulu di dapur untuk memenuhi makan pagi, siang dan sore, jadi bidang ini ingin aku lakukan dengan sepenuh hati dan tentu saja dengan waktu yang sebentar. Efektif dan efisien !! dam tentunya makanan yg aku buat spread the true taste, jadi bukan pempek asal jadi atau makanan asal jadi.

Kenapa?
Karena aku punya anak perempuan yang tentunya belajar dariku membuat makanan dan aku pun punya anak laki laki yang juga belajar tentang dapur dariku agar membuatnya familiar untuk membantu istrinya nanti di saat urgent, seperti melahirkan dsb…
In shaa Allah, tujuannya Allah, apapun bentuknya tidak akan sia-sia.



Leave a Reply