Teaching Financial Planning to be Financial Freedom? (1)

Ehem… kali ini tantangannya menyinggung soal Finansial.
Bukan, saya bukan pakar finansial. Keluarga kami pun belum sepenuhnya mnerapkan financial planning 100%, iya, kami masih belajar, bertahap inshaaAllah…

Pendekatan mengenai Finansial pada anak, sebenarnya sudah pernah saya lakukan sedikit demi sedikit dan bertahap, hasilnya, anak sulung (kakak Afiqah) yang sudah punya uang saku, mampu membuat catatan kalkulasi sederhana di noteboknya, juga prinsip berbagi dan rizki milik sendiri serta perannya sudah beranjak ikut andil dalam sedekah saat Idul Adha, ikut berkurban. Alhamdulillah.

Nah, sebelum memberikan pemahaman tentang finansial ke anak-anak, tentunya saya harus berkonsep terlebih dahulu. Belajar terlebih dahulu.

Sejak menikah sebenarnya kami sudah menerapkan apa yang dimaksud FP, namun belum detail terkonsep, hanya sekedar „apakah ini perlu, butuh atau sekedar keiinginan“ dan „Apa saja yang perlu dipangkas untuk menabung beberapa keperluan penting, seperti biaya melahirkan, Aqiqah, belajar demi upgrade diri, dsb“, satu hal yang kami sepakati bersama „Meminimalisir berhutang“.

Saat itu mungkin kami termasuk yang „takut berhutang“ sekarang sudah berganti, inshaaAllah ingin „hidup tanpa riba“.

Jadiiii jangankan anak anak yang ingin aku didik cerdas Finansial, inshaaAllah aku pun juga ingin ikut belajar.

„Jika Rizki sudah pasti, maka Surga dan KemuliaanNya yang harus dicari“

Belajar untuk cerdas Finansial melalui Financial Planning pada dasarna bisa dilakukan sendiri atau dengan menggunakan jasa Financial Planner. Mahal? Ya relatif, tergantung keperluan.

Bagaimana dengan keluarga kami?
Kami belajar sendiri memanfaatkan buku dan sumber informasi di internet dan kemudian didiskusikan bersama.

Merencanakan keuangan ini, bukan berarti keuangan kami baik sekali atau banyak banget atau bahkan kaya raya, tidak, sama sekali tidak. Tetapi, justru karena tidak ingin manajemen keuangan keluarga berantakan dan sepertinya hal ini membuat kami belajar more wisely dalam mengeluarkan uang.

Sebagai contoh, saat kami pindahan rumah yang membutuhkan dana lebih besar dari sebelumnya, ditambah di sini (Jerman) biasanya uang deposit sebesar 3x dari uang sewa rumah, yang artinya bisa menguras keuangan keluarga. Lalu kemudian keluarga dengan lingkaran terdekat, membutuhkan bantuan dana segar, seperti pernikahan, dsb.

Tentunya bagi kami, semua itu harus dipenuhi, yang satu berkaitan dengan kebutuhan pokok utama kami dalam keluarga (kebutuhan papan) dan yang satu soal ibadah menggenapkan ½ dien (agama).

Dalam situasi ini, moto di atas, „Surga dan KemuliaanNYA“ sangat mampu membuat diri menjadi lebih bijak dalam mengambil kepumenjadi tusan, mengesampingkan ego dan keinginan pribadi.

Tujuannya kami „serius“ dalam perencanaan keuangan ini sebenarnya karena alasa keinginan untuk memiliki kebebasan finansial. Namun, bukan berarti mengesampingkan bahwasannya „Rizki itu pasti dan Allah senantiasa menjamin rizki setiap mahluknya“ , jadi kami bertawakkal untuk belajar disiplin dalam hal keuangan. Seperti halnya Rasulullah SAW menjawab pertanyaan dari Amr bin Umayah RA „ Ikatlah untamu lalu bertawakkallah kepada Allah.“ (Musnad Asy-SyihabQayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368).

Kadang saya bermimpi, suatu hari bisa memiliki bisnis yang berkembang dan menjadikan Ramadhan adalah bulan libur sepenuhnya untuk karyawan, demi memaksimalkan ibadah. Jika bulan lainnya berusaha untuk mengembangkan bisnis, satu bulan ini khusus berhenti khusyuk hanya untuk Allah. Sehingga perlu dan penting banget berada dalam posisi “Kebebasan Finansial” di sini. Ini cuma mimpi yaaak, mari diaamiinkan saja…  hehehe…


Poin poin yang dapat aku tulis dan  selama ini menjadi acuanku dalam perencanaan finansial keluarga, yaitu…

  1. Zakat
  2. Ada rizki orang lain dalam rizki kami
  3. Pembayaran Wajib/ Iuran/ Penyelesaian Hutang (Kami sedang berusaha menghilangkan riba, mohon doanyaaa…)
  4. Investasi
  5. Biaya Hidup

 

Nah, kalau sebelumnya ga ada poin no 2, kali ini sengaa aku tambahkan, biar apa? Agar kemudian kebutuhan yang mendadak dan biasanya besar ini tidak mengambil bagian yang lain, apalagi jika mengambil kas investasi…

Wah tajir banget sampe punya kas khusus investasi?
Eiits, tunggu dulu…
Investasi ini bisa berupa masa depan, dunia dan akherat. Contohnya, membeli buku atau mengambil kursus tertentu atau juga biaya perjalanan menuntut ilmu atau dalam rangka „manfaat untuk umat“, dsb…

Alhamdulillah beberapa poin di atas, sedikit sudah aku sounding ke anak-anak. Feedback yang didapat pun positif. Meskipun di awal ada perasaan sulit, di sinilah kesempatan menjelaskan “The Power of sadaqa dan Rizki milik Allah SWT”

“Give. Even when you know you can get nothing back.” (Yasmin Mogahed)

#hari1
#gamelevel8
#kelasbundsayangIIP



Leave a Reply


error: Content is protected !!