Parenting dan Kreatifitas

Parenting dan Kreatifitas
(pic source : www.teamlewis.com)

Apa sih kira-kira seseorang disebut kreatif?
Hal apa yang harus dimiliki anak sehingga disebut sebagai anak kreatif?
Apa ada orang yang tidak kreatif?

Atau jangan-jangan kita lah (orang tua) yang menjadi penghalang besar kreatifitas anak-anak?
BENAR, bisa jadi…

Lalu, dimanakah kita harus memposisikan diri agar bisa menjadi supporter dan membangkitkan gairah fitrah kreatif mereka?

(pic source : blog.socialcast.com)

OUT OF THE BOX
Ya, kita pun harus berpikiran kreatif yang sama dengan anak-anak. Bebas berpikir, spontanitas dan membiarkan anak-anak unik pada tempatnya (baca : pada tempatnya = sesuai dengan kaidah adab dimana kita bernaung)

Pikiran out of the box ini tentunya, tidak mudah membandingkan anak dengan yang lain, dengan semua orang dan tidak terkotak hanya seperti pada umumnya. Setiap anak unik, punya peran sendiri dan kreatifitasnya pun punya misi sendiri dalam kehidupannya.

Begitu pula dengan orang tua, tidak menginginkan juga anak-nya membandingkan dirinya dengan orang tua lainnya. Apakah iya kita mau dibandingkan dengan orang tua lain, yang bisa jadi lebih mampu dalam hal materi untuk mensupport pendidikan anak? Tidak pernah ada ditemukan bahwasannya anak mebandingkan orang tuanya dengan orang tua lainnya, saat mereka anak-anak.

Jadi, tidak perlu risau apabila anak tidak bakat di bidang science karena bisa jadi memiliki bakat sosial. Tidak gelisah melihat anak belum mampu dengan aktifitas fisik, seperti sepeda roda dua misalnya, karena bisa jadi rasa percaya diri dan keberaniannya masih belum berkumpul penuh.

Kita membutuhkan WAKTU, bersabar dan terus support. Sikap tidak terburu-buru dan tergesa menginginkan anak mampu akan sesuatu, sangat penting sekali.

Dan ini, adalah TANTANGAN untuk orang tua.

pic source : www.youtube.comwatchv=YP7mk-cTnJo

DON’T JUDGE, DON“T ASSUME

Sikap sabar dan tidak tergesa (seperti yang disebutkan di atas) dalam menilai dan mengasumsikan anak-anak. Kita pun harus berfikir KREATIF. Kreatif bertanya kepada anak-anak, membuat mereka mengeluarkan semua idenya yang ada (belajar komunikasi mengungkapkan sesuatu), menggali inside out. Sehingga nantinya kita bisa dengan jelas mengklarifikasi POTENSI dan IDE apa yang anak-anak ingin kembangkan.

Bertanya, bertanya dan bertanya…

Kita sebagai orang tua, pernah menjadi anak-anak. Tapi anak-anak belum pernah menjadi orang tua seperti kita. Maka ubah arah berpikir kita menjadi mereka, saat membersamainya. Membuat mereka merasa, kitalah partner mereka dalam bermain, dalam berkreasi dan dalam mengembangkan ide.

Josh Linker, seorang contributor Forbes yang juga keynote speaker  dalam bidang innovation, creativity dan reinvention, menuliskan “No task has a “right “ answer, because being creative requires someone to generate a variety of unique ideas and then combine them into the best result.”

Beliau pun menuliskan “Creativity defines our ability to be successful in the workplace, and is the only factor to differentiate ourselves from robots. How can we solve world problems? How can we keep up with the constant changes? Creativity WINS.”

Dan aku pun sepakat sekali.

Tidak ada seorang pun terlahir tidak kreatif. Semua industri, semua bisnis dan semua orang kreatif. Jika dalam sebuah industri bisnis tidak kreatif, konstan, diam di tempat, siap-siap saja tergeser dengan banyak ide kreatif yang terus menerus bermunculan.

Sebagai contoh nyata saat ini. Perkembangan dunia internet, maya, semua yang serba terhubung nyata mulai sedikit banyak menggeser perilaku bisnis konvensional. Iklan tidak lagi harus melalui TV dan surat kabar. Menjual barang sudah tidak lagi hanya dalam ruang lingkup tertentu, tapi sudah bisa menjangkau worldwide. Toko konvensional bergeser menjadi toko online. Bahkan seorang jasa photographer misalnya, bisa kita peroleh secara online dan dimana saja melalui apps system.

Jadi siapkah kita belajar bersama anak pada zamannya ini?
Siapkah kita mempersiapkan dan mambantu kematangan fitrah keimanannya di zaman ini?
Menjadikan mereka beradab dalam berilmu, semata karena Allah, tujuannya Allah SWT. Tentunya adab pedoman pun dari AlQuran.

InshaaAllah…

(pic source : brightside.me)

Ada satu hal yang sangat menggelitik dari tulisan Josh Linker, beliau pun menuliskan “Instead of rising to meet the challenges of the day, our outdated and bureaucratic school systems are busy “teaching to the test.”  Instead of “No Child Left Behind”, they are all being left behind and are ill-prepared to succeed in the new era of business…and life.”

Dua kalimat inilah yang sering seliweran di kepalaku, pengalaman pernah melakukan Homeschooling penuh selama 1 semester saat kakak Afiqah masih waiting list untuk masuk sekolah TK di Jerman, cukup membuatnya matang dalam mempersiapkan fitrah keimanannya.

Mampu berargumen, mengungkapkan pendapat kenapa dia berpuasa saat Ramadhan, kenapa dia memilih ekstrakulikuler tertentu, kenapa dia saat bertamu hanya memakan yang „bukan daging“, dsb dan yang penting tidak terpengaruh teman lain yang sesama muslim tapi tidak menjalankan adab sesuai Al Quran.

Alhamdulillah… Alhamdulillah…


Pengalamanku, dalam membuat tenda Teepe, ini adalah murni ide anak-anak, aku juga jadi belajar bersama mereka, belajar membuat pola dan belajar menjahitnya. Anak-anak ikut membantu saat membuat, mebayangkan kira-kira akan menjadi seperti apa dan mereka yang mendirikannya. Ide penggunaan material alam pun dari anak-anak…

Good Job, Kakak Afiqah, Teteh Aqila !!!


Referensi :
1. www. mellyloveskitchen.com
2. Materi dan Diskusi IIP kelas Bunda Sayang tentang Kreativitas
3. Josh Linker, https://www.forbes.com/sites/joshlinkner/2014/10/16/how-kids-lose-their-creativity-as-they-age-and-how-to-prevent-it/#7f9b7da4422e
4. Harry Santosa, Fitrah Based Education

Save



2 thoughts on “Parenting dan Kreatifitas”

Leave a Reply


error: Content is protected !!