Matrikulasi IIP Batch 2 Sesi 1 : Adab Menuntut Ilmu

Matrikulasi IIP Batch 2 Sesi 1 : Adab Menuntut Ilmu

Bismillahirrahmanirrahiiim….

Sebulan lebih  ya, tidak ada postingan di sini. Kemana aja neeeeng?
Ke laut??? – Ga mungkin laaaah ya, daerah Baden-Württemberg mana ada laut hmmm… *kacian 😀

Masih ingat dengan celotehan pertama mengenai „Homeschooling“ ? 😎
Ditambah anak sulungku, Afiqah akan masuk masa transisi menuju Aqil Baligh, tentunya perlu adanya persiapan matang, baik dari aku pribadi sebagai Ibu, yang berperan aktif harian dan Ayah sebagai pemimpin keluarga.

Saat semua ilmu dapat dipelajari di sekolah formal, maka ilmu mendidik anak dengan baik perlu juga „sekolah“. Setiap keluarga unik, tidak akan sama dengan keluarga lainnya sama halnya dengan anak-anak, yang satu tidak sama dengan yang kedua, yang kedua tidak sama dengan yang ketiga, dan seterusnya…, sehingga pendidikan yang terbaik dan pilar utama adalah di dalam keluarga itu sendiri. <3 <3

Sejak Oktober, aku bergabung dengan Korwil 7 di Kelas Matrikulasi IIP (Institut Ibu Professional ) Batch 2 untuk wilayah Kota Gabungan, ASEAN dan Non-ASEAN. InshaaAllah materi , PR serta diskusi akan aku tuliskan dan share di blog ini, sehingga tidak hanya bermanfaat buat sendiri, melainkan juga buat teman-teman yang lain.

Berikut Plan Overview pelaksanaan kelas Matrikulasi Korwil 7 (klik untuk memperbesar)

plan-overview-sesi-1

Video dari Bu Septi Peni Wulandari, founder IIP

Materi-materi yang akan diperoleh di kelas ini dapat dilihat di bawah ini

peta-sesi-1
peta-sesi-1-2


Materi Matrikulasi Sesi #1
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

ADAB MENUNTUT ILMU

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang
sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati. Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai  disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, sehingga mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.


Tanya-Jawab dan Diskusi:

Arlisa
Boleh minta sharing dari ibu ibu semua? kira2 contoh aktivitas menularkan adab menuntut ilmu kepada anak yang terbayang apa saja? (terutama jika usia anak masih balita) terimakasih

Linda
Pertanyaan yang mirip dengan ibu arlisa. Bagaimana cara sederhana menularkan adab menuntut ilmu kpada anak?

Jawaban TFM (Tim Fasilitator Matrikulasi) :
Maksud dari ditularkan adalah memberikan TELADAN kepada anak, bukan sekedar memberi pengajaran melalui verbal saja, karena
“Anak bisa saja salah memahami yang kita ajarkan kepadanya, tp anak takkan pernah salah mengcopy perilaku kita”
Contohnya: adab makan menggunakan tangan kanan dan tidak berdiri.
Kita sudah setiap hari berbicara hal itu, tapi kita lupa setiap makan snack masih berdiri. Jangan berharap anak akan makan sambil duduk seperti arahan pengajaran verbal yang selalu kita dengungkan, terkadang justru anak yang mengingatkan ‘mah, kalau makan duduk’
Jadi, mari kita mulai dari diri kita dahulu.
Contoh lain: adab kepada guru
Saya memahami guru adalah semua orang di kehidupan ini yang memberikan ilmu, hikmah, kepada kita
Misal, ketika sedang diberikan arahan oleh suami, kita hanya mendengar dengan ogah2an atau menjawab sekecap2,
Jangan berharap ketika di sekolah anak bisa punya adab yang baik kepada gurunya, walau setiap hari kita berkata ‘hormati gurumu’.

Tanggapan dan Diskusi
– Arlisa
terimakasih jawabannya bu Shanty, sepakat dengan menularkan via keteladanan, maka saya pun bertanya kira2 aktivitasnya apa saja yang ibu ibu sekalian lakukan untuk menularkan adab baik dalam menuntut ilmu, contoh yang bu Shanty berikan ttg menghargai lawan bicara (suami) salah satu contoh yang oke banget. nuhun
– shanty
Kalau bisa tetap konsisten jadi teladan itu keren sekali. Saya yakin suatu saat mereka akan paham. Anak balita menurut pengalaman saya belum lah sempurna daya pikirnya. Saya pribadi sih tidak terlalu kaku untuk anak usia dibawah 7 tahun. Apalagi 5 tahun. Bagaimana dengan teman-teman yang lain?
– erliokta
Setuju mb shanty, musti terus jadi teladan …meski kadang hilang kesabaran xixixi, kadang setelah mereka “mengalami” sesuatu yang berkaitan dengan yang selama ini kita contohin atau ngomongin baru mereka ngeh dan jalan sendiri
– Linda
Terima kasih bunda bwt pencerahannya…..maaf bunda muncul pertanyaan lagi. Kalau kita sdh berusaha memberikan teladan berulang-ulang kpada anak melalui perilaku tetapi anak (dibwh 5thn)tetap belum bs menjalankan sikap teladan kita bagaimana bun?tetap konsisten saja pada sikap teladan kita?
– Shanty
Kalau pengalaman saya pribadi sebagai orang yang susah buat konsisten, saya akhirnya cenderung permisif sama anak untuk hal-hal yang belum mampu saya contohkan.
– Sherly
Saya setuju banget dengan mba syanti untuk anak2 dibawah 7 tahun kita memang perlu mengajarkan adab apapun itu tapi tidak perlu langsung cukup dilakukan dengan rutin mereka akan melihat dan mengikuti adab yang kita ajarkan..tapi bicara tentang adab ini kita sebagai ibu memang harus banyak ilmu yang harus dipelajari
– Shanty
Banyak stok sehat mental kalau kata saya sih. Biar sumbunya nggak pendek
– Sherly
Betul banget karena jiwa anak2 itu sangat polos apalagi yang masih dibawah 5 tahun jawaban atau pertanyaan yang mereka berikan itu sangat polos jadi intinya setiap ibu harus punya sabar yang banyak kali ya dalam mendidik mereka amin

Annisa
Mba saya mau tanya..
Kalau kita dapat info, yang menurut kita, (khususnya saya) mrasa bahwa ilmu itu manfaat, kadang kita maunya sharing ilmu tsb.
Nah kodariatnya manusia itu (khususnya saya lagi  hehe) lupa sumbernya darimana. Karena jujur saya itu orang yang suka inget info ato ilmu, tapi suka lupa sama penyampai/sumbernya (hehe kualat g ya? ). Tapi krn saya rasa ilmu itu manfaat, jd ingin sharing ke orang lain.
Pertanyaannya, gimana menyiasati agar saya tetap bisa sharing ilmu, tapi tetap ‘ber-adab’ dalam menyampaikannya dngan keterbatasan tsb? Mkasih mba
Tambahan dari mb Resi
Mungkin bisa ditambahkan gimana caranya biar bisa tabayyun…
Soalnya kan biasa kalau berita/artikelnya bagus ya maunya langsung dipercaya aja

Jawaban dari Bu Septi Peni Wulandari:

Ini prinsipnya literasi media
a. Ada berita /info yang  menarik dan baik ➡ cari sumbernya darimana ➡dapat sumber, cantumkan ➡ share
b. Ada info/berita menarik ➡ tidak ketemu sumbernya ➡ simpan unt diri kita, tidak perlu disebar

Tanggapan dan Diskusi

  • Myra
    Kalau menurut saya balik lagi dari siapa/apa/ kita mendapat info/ilmu tsb. Kalau dari seseorang sebaiknya tanyakan langsung dari mana sumbernya. Apa dari buku/koran/jurnal dsb. Begitu juga kalau dari media online coba cek lagi via browsing dari mana link nya. Jangan langsung disebar.  Kalau memang sudah yakin sumbernya benar baru boleh di sharing. Wallahualam.
  • Arie
    Saya biasanya menyertakan “saya baca dari sebuah buku, maaf sumber saya lupa. Inshaa Allah lain kali saya tambahkan jika ingat”
    Dan saya tetap mencari darimana saya baca kemarin. Begitu ketemu langsung saya tambahkan dan perbaiki lagi  tapi biasanya begitu baca dan saya rasa bagus, saya langsung share. Jadi sumber masih jelas dan langsung bisa dishare. 😊

Nita
Saya juga mau tanya mbak..
Dalam materi diatas disebutkan bahwa penuntut ilmu dengan sepenuh hati harus memiliki sikap hormat kepada “guru”,suatu ketika si guru ini melakukan tindakan yang kurang baik, dan membuat sakit hati, nah bagaimana sikap kita untuk bisa kembali hormat terhadap beliau..

Jawaban dari Annisa
Kalau saya terkadang suka memegang kalimat ‘dengarlah apa yang disampain, jangan liat siapa yang menyampaikan’ jadi selama ilmu nya baik tetap diserap, tp jeleknya saya gr2 ini juga saya jd suka lupa penyampainya,  inilah yang sering jadi kendala saya, hiks. wallahu ‘alam bishawab


Setiap pagi hari berikutnya, kita diberi tugas (yang secara tidak langsung) mengaplikasikan materi yang disampaikan sebelumnya. Jawaban di bawah ini adalah jawaban tulisan pribadi yang dibuat olehku, pemilik blog Mellyloveskitchen.

NHW (Nice Homework) #1

Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini?

Banyak hal yang ingin dipelajari tentunya, tapi jika yang ditanya hanya satu maka yang utama adalah
Al-Quran dan bahasa.

Sebagai pedoman tentu Al-Quran akan menjadi landasan dalam kehidupan sehari-hari, baik aktivitas di luar rumah maupun di dalam rumah. Sedangkan bahasa, adalah hal yang sangat penting dalam komunikasi, bisa melalui tulisan atau juga lisan dalam diskusi dan tidak hanya satu bahasa tapi mampu menguasai banyak bahasa.  InshaaAllah.

Ilmu yang barokah tentunya ilmu yang bermanfaat. Sehingga sebisa mungkin aku akan mengusahakan untuk berbagi, tidak hanya untuk kalangan keluarga tapi juga dengan teman-teman yang lain.

Seperti pepatah Imam Syafi’i :
„Ilmu itu bagaikan binatang buruan, sedangkan PENA adalah pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Alangkah bodohnya jika kamu mendapatkan binatang buruan, namun kamu tidak mengikatnya hingga akhirnya buruan itu lepas di tengah-tengah manusia.”

Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
Lillahi Ta’ala, diniatkan semua karena  Allah Ta’ala, mengharapkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya.

Sesuai dengan Hadist Arbain 1:
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata:
Saya mendengar Rasulullah ? bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

Hidup sebagai minoritas tentu memberikan rasa dahaga dan haus akan Ilmu Al-Quran. Tidak hanya isinya, melainkan juga cara membaca dan mengamalkannya. Bagaimana membaca dengan tartil dengan tajwid yang benar, bagaimana belajar tahsin, dsb.

Hal ini tidak mudah kami temukan di kota kami tinggal. Kalaupun ada, bahasa asing (bahasa Arab) yang tidak dikuasai akan menjadi tembok besar penghalang untuk dapat memahami ilmu. (Fyi, masjid Arab di kota kami tinggal, menyelenggarakan sekolah agama untuk anak anak dalam bahasa Jerman, sedangkan untuk orang tua menggunakan pengantar bahasa Arab).

Disinilah pentingnya peran Ibu. Al -Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya).

Lalu apakah menjadi sekolah pertama, mengharuskan aku untuk mengetahui tentang segala hal dari A-Z?
Tentunya aku pun hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan kemampuan. Point utama yang tidak kalah penting adalah selalu memiliki rasa ingin terus belajar.

Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Mengalokasikan waktu khusus untuk mencari sumber ilmu, membaca tafsir Al-Quran, memahami maknanya, bertanya pada yang lebih tau jika ada hal yang tidak dimengerti.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Mengikuti belajar membaca Al Quran dengan tartil, kemudian menyampaikan kembali dan belajar bersama anak-anak.

“… dan bacalah Al Qur’an dengan tartil” (QS. Al Muzammil: 4)

Menjadi fasilitator yang baik bagi anak-anak, bersama mereka mencari ilmu, baik dari buku, diskusi maupun selama kegiatan travelling.

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk : 15)

Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. 29:20)

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
Bersungguh-sungguh dengan niat Karena Allah dan Rasul-Nya.
Man jadda wa jada, “siapa yang berusaha (Inshallah) akan mendapat apa yang diusahakannya”.
Man zara’a hasada ,”siapa yang bercucuk tanam (Inshaa Allah) akan menuai hasilnya.”
Man yajtahid yanjah, “siapa yang berusaha (Inshaa Allah) akan beroleh kejayaan.”

Menyediakan waktu waktu khusus tertentu yang sengaja untuk mencari ilmu tersebut.  Bersikap rendah hati, berbagi ilmu yang di dapat serta tidak merasa „saya yang paling tahu“ tapi lebih kepada „yuk, kita belajar bersama“.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)

Bersikap optimis dan menghargai setiap prosesnya serta percaya, bahwa Allah sebaik-baik penolong dan pelindung. Hasbunallaahu wani’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir, “Cukuplah Allah menjadi Penolong bagi kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”

Jika Allah dan Rasulnya sudah ada di dalam hati anak-anak, maka kita orang tua akan melihat ibadah yang ananda lakukan penuh dengan rasa cinta bukan karena paksaan…. inshaaAllah


“Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing or learning to do.”
–Pele-

#ODOPfor99days
#day1

Save

Save

Save



2 thoughts on “Matrikulasi IIP Batch 2 Sesi 1 : Adab Menuntut Ilmu”

  • Waaaa Mba melly, seneng bgt baca tuisannya mba meli =) jadi pengen ikutan ibu profesional ihh =) tapi belum jadi Ibu :D
    • Winda Stuttgart kah ini? Pas banget win lagi ada bukaan kuliah matrikulasinya, pendaftaran dibuka sampai tanggal 7 Mei

Leave a Reply


error: Content is protected !!