(Frankfurter Buchmesse 2015) Frankfurt Book Fair 2015 : Indonesian as Guest of Honour

(Frankfurter Buchmesse 2015) Frankfurt Book Fair 2015 : Indonesian as Guest of Honour

Frankfurter Buchmesse atau lebih dikenal Frankfurt Book Fair (FBF) disinyalir sebagai the world’s largest trade fair for books ,hal ini dilihat dari jumalah pengunjung dan perusahaan pelaku bisnis terkait penerbitan buku dan lisensi serta penulis, ilustrator, seniman, perangkat lunak dan multimedia. Sehingga tidak salah jika banyak yang menganggap FBF ini merupakan pameran buku yang paling penting di dunia.

MesseFrankfurt http://blog.conrad.de

 

Frankfurt Haupbahnhof , Stasiun Kereta Frankfurt
Frankfurt Haupbahnhof , Stasiun Kereta Frankfurt

Setiap tahunnya, acara ini diselenggarakan  di Frankfurt Messe, Frankfurt am Main, Jerman , di pertengahan bulan Oktober, selama 5 hari. Tiga hari pertama merupakan jadwal untuk pengunjung  eksklusif (pelaku bisnis di bidang buku untuk penerbitan, menulis, lisensi, dsb) dan 2 hari terakhir sisanya, terbuka untuk khalayak umum.

Sejak  tahun 1976, pameran ini memberikan ruang bagi negara negara lain untuk menjadi tamu kehormatan dan menjadikannya sebagai Tema  Frankfurt Book Fair di tahun tersebut. Seperti tahun ini, 2015, Indonesia menjadi tamu kehormatan dengan mengusung tema „17.000 Inseln der Imagination (17.000 Islands of Imagination)” .

Adanya kesempatan sebagai tamu kehormatan tentunya memberikan dampak yang positif bagi negara berkembang Indonesia, untuk memperkenalkan diri, potensi dan karya anak bangsa. Bisa dibayangkan, hadirnya Indonesia disini menjadilkan hasil kreatifitas anak bangsa makin diakui banyak pihak dari berbagai negara dan tentunya ini menjadi pemicu makin meningkatnya kepercayaan generasi muda dalam berkarya seni, menulis, dsb.

Informasi mengenai penyelenggaraan Frankfurter Buchmesse setiap tahunnya bisa dilihat di website Buchmesse di sini.
web buchmesse. . . . . .

Sejak tahun lalu sebenarnya aku sudah ingin datang ke acara FBF ini, hanya saja saat itu menjelang ujian DTZ dan ujian politik negara, jadilah mengesampingkan dulu kepentingan yang lainnya. Alhamdulillah tahun ini bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair di saat Indonesia menjadi tamu kehormatan. Hal yang bersamaan pula momen ini menjadikan temu kopi darat beberapa teman teman Kompakerseropa yang juga mengunjungi FBF ini 😉

dari kiri ke kanan : Mindy dan Medea, Beth, Era dan Aima, Aku dan Flipper, Mia

Beberapa dari kami sudah mengunjungi FBF di hari Sabtu, jadi kami janjian sarapan bersama di tempat yang sudah disepakati sehari sebelumnya, di salah satu kafe di dekat Hauptbahnhof. Alhamdulillah seneng bangeeet. Kebayang kan biasanya info-info hanya di grup dan tidak pernah bertemu, setelah bertemu rasanya seperti sudah kenal lama ^^

Terimakasih Beth, Era, Mindy dan Mia <3 <3


Meet Up pagi itu, diakhiri dengan kisses dari Medea dan Mila di pipi kanan kiri <3

. . . . . .

FBF tahun ini dibuka untuk umum pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2015, 2 hari terakhir menjelang penutupan. Dan aku datang di hari Minggunya. Jujur saja, 1 hari tidak akan cukup menjelajahi seluruh pameran ini, ada 5 gedung besar dengan minimal 3 lantai yang cukup luas untuk dilihat apalagi jika waktunya terpotong untuk mengikuti sesi-sesi diskusi yang diadakan.

Biaya tiket masuk yang ditawarkan pun beragam (umum, kontributor atau bisnis). Untuk umum, tiketnya sekitar 18 eur dan ada penawaran harga khusus untuk student atau sejenisnya dan juga pemegang kartu Arbeitlos (tidak bekerja), dsb. Sedangkan untuk Flüchtlinge atau pengungsi (pengungsi yang berasal dari negara negara perang, dsb) diberikan hak untuk masuk gratis.

Fachbesucher/ Professional Visitor

 

Privatbesucher/ Umum

. . . . . .

Antrian panjang penitipan jaket

Pengalamanku dengan tiket, sesaat sebelum masuk Messe frankfurt, aku ditawari untuk membeli koran lokal seharga 0,80 eur atau 80 cent, yang didalamnya ada voucher untuk membeli 1 tiket gratis 1 dan hanya berlaku untuk pembelian jenis tiket sehari. Kebetulan aku saat itu berdua dengan temenku Mia, jadi adanya voucher ini membuat kami berdua tampak lebih sumringah melewati dingin pagi itu di Frankfurt, hihihihihihihi 😀

Sesaat sebelum masuk, kami menitipkan jaket dan beberapa barang di tempat penitipan. Panjangnya antrian menitip jaket memperlihatkan banyaknya pengunjung di hari terakhir 😉

. . . . . .

Lorong menuju Hall
Lorong menuju Hall

 

Pintu masuk Hall 3
Pintu masuk Hall 3

 

Padat pengunjung dan banyaknya item buku yang ingin dilihat
Padat pengunjung dan banyaknya item buku yang ingin dilihat

 

Display buku yang ditampilkan sangat rapih dan menarik
Display buku yang ditampilkan sangat rapih dan menarik

 

PONS, salah satu penerbit literatur bahasa di Jerman
PONS, salah satu penerbit literatur bahasa di Jerman

 

Lorong pameran di luar ruangan
Lorong pameran di luar ruangan

 

Spot anak-anak
Spot anak-anak

 

Semua Rak berisi buku resep dari berbagai penulis, semoga suatu saat bisa juga menulis buku resep yang juga diletakkan di rak-rak ini 🙂 Aamiin

 

Salah satu Media Cetak di Jerman

 

Carlsen, penerbit buku anak-anak

 

Spot Buku Taiwan
Spot Buku Taiwan

 

Spot Buku Korea
Spot Buku Korea

 

Suasana di luar Gedung FBF

 

Suasana di luar gedung Pameran
Suasana di luar gedung FBF

 

Salah satu Media Online TV yang ada di Jerman
Salah satu Media Online TV yang ada di Jerman

Ada banyak hal yang berbeda antara Book Fair yang dikunjungi di sini (Frankfurt, Jerman) dan Indonesia.

Disini, benar benar seperti surganya buku, semua jenis buku dari berbagai negara ada. Karena memang event Internasiona ya. Dari mulai buku anak, remaja, dewasa, orang tua, roman, pokoknya semuanyaaa… dari mulai bahasa lokal (jerman), bahasa Inggris dan bahasa dari masing masing negara peserta Book Fair. Bisa dibayangkan satu lantai hall saja besarnya ga nahan untuk dilihat satu-satu, ini ada 5 hall yang semuanya besar.

Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca
Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca

Hal yang menarik, di setiap stand buku, pengunjung diberi fasilitas kursi dan meja atau kursi saja yang nyaman untuk membaca dan semua buku dipajang dalam keadaan tidak di bungkus, jadi semua pengunjung dipersilahkan dengan senang hati untuk duduk santai dan membaca. Pemandangan yang seperti ini memang sangat lumrah ditemui di berbagai toko buku di Jerman. Seharian di toko buku untuk membaca adalah hal yang sah sah saja, asyik ya? 😉

Lesezelt
Lesezelt

Seperti halnya kegiatan perpustakaan-perpustakaan di Jerman pada umumnya, di FBF juga menghadirkan kegiatan „menceritakan“ untuk bacaan anak-anak, bahkan ada disediakan tempat khusus, Lesezelt (atau disebut sebagai Tenda Membaca). Di pameran buku pun ada beberapa spot tertentu dimana anak anak bisa duduk santai sambil mendengarkan cerita. Percayalah, si pencerita akan menarik pendengar untuk duduk anteng mendengarkan isi ceritanya dengan seksama. Kenapa?? Karena di setiap adegannya dia bisa mengeluarkan berbagai jenis suara berbeda diikuti dengan mimik yang kadang penuh kejutan ! 🙂

Sehingga tidak heran, kalau pendengar pun ikut merasakan alur cerita yang lucu, sedih, gembira dan petualangan seru. Saat mengunjungi spot ini agak sedikit menyesal memang, tidak membawa anak-anak untuk ikut serta. Tapiii ya karena memang hari Minggu, kakak Afiqah punya jadwal sekolah Minggu yang sepertinya tidak boleh terlalu sering membolos.

Kinderbuch Centrum, Children's Book Centre
Kinderbuch Centrum, Children’s Book Centre

 

Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru
Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru

 

Apps Radio.de
Apps Radio.de

 

Pilihan di Apps Radio.de
Pilihan di Apps Radio.de

 

Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak
Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak

Oh iya, kegiatan seperti ini juga bisa didengar melalui apps radio dari hp, nama apps nya radio.de bisa di download di apps store , langsung saja cari „Hallo Eltern Podcast – Märchen“ (menceritakan cerita dongeng Jerman untuk anak anak).


Stand Buku Indonesia
Stand Buku Indonesia

 

Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015
Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015

 

Gramedia Printing di FBF 2015
Gramedia Printing di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan
Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku di Indonesia Pavilion
Buku-buku di Indonesia Pavilion

 

Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.
Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

 

Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion
Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

 

Sebagai tamu kehormatan, tentunya Indonesia banyak memberikan peran dalam event-event  yang diadakan. Seperti seni dan budaya, karya sastra, diskusi panelis dan kuliner. Banyak tokoh-tokoh karya sastra, kuliner, seni dan budaya yang turut serta di FBF. Beberapa penerbit Indonesia, termasuk juga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ikut andil dalam pameran buku di Hall buku Internasional.

Beberapa diantaranya, yaitu :

Penulis buku sastra dan fiksi
A. S. Laksana
Abidah El Khalieqy
Afrizal Malna
Agus R. Sarjono
Ahmad Fuadi
Ahmad Tohari
Andrea Hirata
Avianti Armand
Ayu Utami
Azhari
Budi Darma
Cok Sawitri
Dewi Lestari
Dorothea Rosa Herliany
Eka Kurniawan
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gus tf Sakai
Ika Natassa
Intan Paramaditha
John Waromi
Joko Pinurbo
Laksmi Pamuntjak
Leila S. Chudori
Lily Yulianti Farid
Linda Christanty
M. Iksaka Banu
Maggie Tiojakin
N. Riantiarno
Nh. Dini
Nirwan Dewanto
Nukila Amal
Okky Madasari
Oka Rusmini
Putu Oka Sukanta
Ratih Kumala
Sapardi Djoko Damono
Seno Gumira Ajidarma
Sindhunata
Taufiq Ismail
Darwis (Tere Liye)
Toeti Heraty
Triyanto Triwikromo
Yusi Avianto Pareanom
Zen Hae

Penulis komik
Aji Prasetyo
Apriyadi Kusbiantoro
Arief Yaniadi
Beng Rahadian
Benny Rachmadi
Hikmat Darmawan
Is Yuniarto
Iwan Gunawan
Kharisma Jati
Muhammad Misrad (Mice)
Sheila Rooswitha Putri
Tita Larasati
Wendy Jaka Sundana

Penulis buku anak
Arleen Amidjaja
Christiawan Lie
Djokolelono
Murti Bunanta
Nadia Shafiana Rahma
Renny Yaniar
Tety Elida

Penulis buku non-fiksi
Agustinus Wibowo
Dian Pelangi
Imelda Akmal
Julia Suryakusuma
Noor Huda Ismail
Trinity
Suwati Kartiwa
Wahyu Aditya
Yoris Sebastian

Penulis digital
Daryl Wilson
Taufik Assegaf

Juru Masak
Aries ​Adhi Baskoro
Astrid Enricka Dhita
Bara Pattiradjawane
Budi Lee
Ignatius Emmanuel Julio
​Ivan Leonard Mangudap​
Mukhamad Solihin
Petty Elliot
Putri Mumpuni
Ragil Imam Wibowo
Sandra Djohan
Sisca Soewitomo
Sudarius Tjahja
Vindex Tengker

Tokoh Kuliner
Helianti Hilman
Lisa Virgiano
Mary Jane Edleson
Mei Batubara
Santhi Serad
Sri Owen
William Wongso

Aktivis Literasi
Anton Solihin
Asma Nadia
Evelyn Ghozalli
Heri Hendrayana (Gola Gong)
Janet DeNeefe
Muhidin M. Dahlan

Narasumber seminar
Frans Magnis Suseno (Pluralisme and Islamophobia)
Haidar Bagir (Pluralism and Islamophobia)
Ulil Abshar Abdalla (Pluralisme and Islamophobia)
Philips Vermonte (Pluralisme and Islamophobia)
Setiadi Sopandi (Tropical Architecture in Indonesia)
Gede Kresna (Tropical Architecture in Indonesia)
Oman Fathurahman (Script in Indonesian Manuscript)
Sugi Lanus(Script in Indonesian Manuscript))
Dewi Candraningrum (Translating Faust and Goethe)
Mery Kolimon (Writing of Political Violence and Trauma)
Endo Suanda (Recording of Indonesian Music)
Eko Prawoto (Climate and Architecture)
Francis Kere (Climate and Architecture)
I Made Bandem (Indonesian Superhero, Cerita Panji)

Pembaca Karya
Butet Kartaredjasa
Elizabeth Inandiak
Endah Laras
Jennifer Lindsey
Landung Simatupang

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de
Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

 

Buku hasil karya penulis pun beberapa sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman dan sudah tersedia di toko buku online seperti Amazon.de , Thalia.de dan bookdepository.com.

Nama nama yang dituliskan di atas juga berperan sebagai panelis dan narasumber dalam berbagai event diskusi selama berlangsungnya FBF dan di beberapa Bibliothek/ perpustakaan di berbagai kota di Jerman,  seperti Dresden, Heidelberg, Berlin, dsb.

Semaraknya Indonesia mewarnai FBF tahun ini tidak mungkin terlepas dari cita rasa masakan khas tanah air. Sehingga ada beberapa spot di pameran ini yang menyediakan masakan khas Nusantara seperti Nasi Kapau, Gado-gado, Ayam rica-rica, dessert Klappertaart, dsb

Spice It Up , Restoran dengan cita rasa Indonesia di FBF

 

Menu yang disajikan di Spice it Up FRB 2015
Menu yang disajikan di Spice it Up FRB 2015

 

Menu yang disajikan di Spice it Up FRB 2015
Menu yang disajikan di Spice it Up FRB 2015
Duo Chef di Kaki Lima Frankfurt doc https://www.facebook.com/spiceitupindonesia/
Duo Chef di Kaki Lima Frankfurt
doc https://www.facebook.com/spiceitupindonesia/

 

Antrian panjang kaki lima Frankfurt doc. https://www.facebook.com/spiceitupindonesia/
Antrian panjang kaki lima Frankfurt
doc. https://www.facebook.com/spiceitupindonesia/

 

Suasana kaki lima Frankfurt doc. https://www.facebook.com/spiceitupindonesia/
Suasana kaki lima Frankfurt
doc. https://www.facebook.com/spiceitupindonesia/

 

Kaki lima di Koran Jerman doc . https://www.facebook.com/spiceitupindonesia/
Kaki lima di Koran Jerman
doc . https://www.facebook.com/spiceitupindonesia/

Di luar area pameran, juga digelar masakan Kaki Lima, yang menyediakan Nasi Goreng dan Sate khas Indonesia. Kaki Lima ini bisa dikunjungi langsung di Römer, salah satu sudut kota Frankfurt, Jerman. Tantangan banget kan ya, menjajakan makanan di luar ruangan di saat suhu sudah mulai turun di musim gugur.

Rasanya tidak cukup hanya satu hari untuk bisa mengunjungi seluruh area FBF. Hari Minggu, aku berkesempatan untuk mengikuti dua event setelah berkeliling melihat-lihat buku dan berfoto bersama dengan penulis 😉 , yang pertama,  “The Art of Banana Leaves Food Wrapping” yang disampaikan oleh Ibu Sisca Soewitomo dalam Bahasa Indonesia dengan penterjemah Bahasa Jerman dan yang kedua,  “Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Dr. Jusuf Habibie dan Frans Magnis-Suseno dalam Bahasa Jerman.

Keduanya dilakukan sama sama di Indonesia Pavilion dan waktunya yang berdekatan, sehingga aku pun bisa mengikuti tanpa harus berpindah gedung lainnya.


Event yang pertama, Bu Sisca memperkenalkan penggunaan daun pisang yang kerap kali digunakan di berbagai macam masakan Indonesia. Baik itu sebagai pelengkap, alas/ wadah ataupun pembungkus. Sambil mendemokan membuat gado-gado, beliau menjelaskan aroma yang dikeluarkan dari daun pisang tersebut yang memberikan rasa dan aroma yang khas, apalagi jika daun pisang yang digunakan untuk membungkus makanan, selanjutnya dibakar sebentar di perapian, akan menambah cita rasa sedap dalam masakan. Dan ternyata, Ibu Sisca menggunakan daun pisang yang di dapatkan di Toko Asia di Jerman.

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015
Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

 

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015
Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

 

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015
Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

 

Foto bersama dengan Chef Vindex
Foto bersama dengan Chef Vindex

 

Bersama bu Sisca yang ramah sekali
Bersama bu Sisca yang ramah sekali

 

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta warganegara Jerman, menanyakan mengenai rasa masakan khas Indonesia, yang sebagian besar menggunakan cabai dan rasanya pedas. Hal ini tentunya berkaitan dengan selera masyarakat Jerman yang cenderung plain saja tanpa pedas.

„Banyaknya macam jenis masakan Indonesia, tentunya ada pula yang tidak harus menggunakan cabe atau jika pun menggunakan, kadar penggunaan cabe itu sendiri juga dapat disesuaikan dengan selera. Jadi tidak selalu harus pedas“ jelas bu Sisca.

“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie
“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie

 

Padatnya podium saat sesi dengan Pak Habibie
Padatnya podium saat sesi dengan Pak Habibie

 

Bersama anak Pak Habibie dan keluarga Mba Era
Bersama anak Pak Habibie dan keluarga Mba Era

 

Event selanjutnya, antusias peserta tidak kalah banyaknya dibanding dengan event sebelumnya. Bahkan podium peserta diskusi tidak cukup menampung dan banyak yang rela untuk melantai agar dapat mengikuti diskusi bersama Presiden Indonesia yang ketiga ini, Dr. BJ. Habibie.

Berikut sebagian pemaparan diskusi oleh Dr. BJ Habibie, yang aku rekam:

Intinya, Bapak Habibie sangat yakin bahwa nantinya Indonesia akan menjadi negara yang mandiri dan bisa mensejahterakan rakyatnya. Kekayaan alam Indonesia yang sangat banyak dan semakin potensialnya sumber daya manusia tentunya menjadi kombinasi yang positif untuk kemajuan bangsa.

Ada beberapa event lainnya yang aku lihat namun tidak full, karena aku masih ingin melihat-lihat pameran buku, yakni

Morning Coffeewith Literacy Activist bersama Muhidin Dahlan, Anton Solihin, Heri Hendrayana, Asma Nadia dan Evelyn Gozali.

Terakhir sebelum penutupan, ada diskusi 2 penulis, satu dari Indonesia yang yang diwakili oleh Ayu Utami dan satunya dari Belanda yang diwakili oleh Adriaan van Dis. Podium penonton untuk diskusi ini sepertinya hanya untuk orang-orang tertentu karena akan sekalian dengan penutupan dan serah terima ke Belanda sebagai Guest Honour tahun depan.

Tetapi, aku masih dapat melihatnya dari layar yang disediakan di dekatnya.

Morning Coffeewith Literacy Activist bersama Muhidin Dahlan, Anton Solihin, Heri Hendrayana, Asma Nadia dan Evelyn Gozali.
Morning Coffeewith Literacy Activist bersama Muhidin Dahlan, Anton Solihin, Heri Hendrayana, Asma Nadia dan Evelyn Gozali.

 

Berfoto bersama Asma Nadia
Berfoto bersama Asma Nadia

 

Berfoto bersama Dian Pelangi, sengaja pajang foto yang lagi merem. Keliatan kan mana yang foto model dan yang model beneran 😀 Hahahahaha….

 

Sesi diskusi dengan Ayu Utami
Sesi diskusi dengan Ayu Utami

Die nächste Buchmesse findet vom 19. bis 23. Oktober 2016 statt !!
Nantikan Frankfurt Book Fair berikutnya, yang akan diselenggarakan pada tanggal 19-23 Oktober 2016 !!


Dari FBF ini, aku hanya membeli 3 buku tebal karangan Tere Liye dan itu pun sudah cukup berat, karena ada beberapa tambahan barangku yang aku titipkan di pintu masuk 🙂

Sepulang dari FBF, aku langsung menuju Frankfurt Hauptbahnhof. Cek baterai hp sudah tinggal 1%, segera mengabarkan orang rumah posisiku, lalu tiba-tiba ada message masuk dari Kayka, salah satu kenalan blogger. Aku banyak belajar dari pengalamannya Kayka saat Kursus Bahasa Jerman dan ujian DTZ, yang doi tuliskan di blog. Alhamdulillah sekarang ketemu langsung dengannya ^_^

Frankfurt Hauptbahnhof
Frankfurt Hauptbahnhof

 

Saat itu, mengingat handphone sudah 1%, aku sudah ga berharap banyak untuk bisa ketemu tapi ternyata Kayka menanyakan dimana lokasiku. Langsung kujawab kalau aku sudah di Fra Hbf.  Dan surpriiiiise…. ternyata kayka dan suami, nyamperin aku ke hbf. Walaupun sebelumnya, ada selisip sedikit karna doi ga menemukan aku di lokasi yang kutulis, mungkin karena saat itu aku menunggu sambil baca buku, jadi posisiku rada menunduk.

Kayka menawarkanku untuk melihat-lihat Frankfurt malam hari, tapi aku agak keberatan mengingat bawaanku yang lumayan berat. Senangnya, Kayka dan suami ramah sekali dan bersedia membantu membawakan sebagian barangku yang tentu saja tidak bisa dititip. Kami mengunjungi Oper Frankfurt, mengambil foto yang ternyata saat malam hari cantiiiiik sekali gedungnya dan kemudian ngobrol-ngobrol seru. Entahlah aku ga menyangka bisa silaturahmi, terbayang senengnya saat itu, yang tadinya kontak hanya lewat dunia maya, baca sharingnya sampe tamat, kemudian ketemu langsung ^^‘

Oper Frankfurt
Oper Frankfurt

 

Oper Frankfurt
Oper Frankfurt

 

Air Mancur di depan Oper Frankfurt
Air Mancur di depan Oper Frankfurt

Setelahnya, kayka dan suami mengantarkanku sampe halte dimana, aku akan naik bis pulang menuju Mannheim. Hal yang tidak diduga, bisku terlambat hampir 1 jam dan saat itu kondisi hpku sudah mati. Dan betapa beruntungnya aku, kayka dan suami rela menunggu aku sampai benar-benar naik bis, bahkan berkali-kali kayka membantu untuk mengecek bis yang baru datang adalah bisku atau bukan dan membantu bertanya ke penumpang lainnya, yang sepertinya satu bis denganku.

Kami baru pertama kali bertemu, kami baru pertama kali berkenalan tatap muka, tapi saat aku bilang „tschüs“ sesaat sebelum naik bis, aku seperti merasa punya saudara baru <3
Seperti yang aku tulis sebelumnya, disini, „dengan harapan dan doa kepada Allah, maka DIA akan mengantarkan banyak tangan tangan orang baik untuk membantu“. Percayalah, kamu tidak akan sendirian 😉

Terimakasih Kayka <3 <3 <3
Salam hangat dan sehat untuk Kayka dan keluarga  <3

Aku tiba di rumah hampir jam 12 tengah malam, alhamdulillah lancar, aman dan lelah pastinya 🙂
Setelah beberapa menit hp di charge dan masuklah sms beruntun dari pihak bis yang memberitahukan perihal keterlambatan tiba di Frankfurt  😀

Mannheim
Mannheim

 

Kalau sudah begini, baru deh sadar butuh power bank untuk hp 😀

  • Mannheim, 03.11.2015 –


0 thoughts on “(Frankfurter Buchmesse 2015) Frankfurt Book Fair 2015 : Indonesian as Guest of Honour”

Leave a Reply


error: Content is protected !!