Punya Hutang itu…..

Punya Hutang itu…..

http://www.todayonline.com

Pernah ngerasain punya utang? Pernah laah yaa, biar Cuma 10 cent, 1000 rupiah, namanya utang ya tetep deh utang, ya ga sih?

Aku tuh punya kebiasaan kalo aku yang punya utang, pasti deh nguber nguber yang diutangin untuk bilang
“udah lunas kah?” , pertanyaan men clear kan diri kalo udah bebas utang 😀
“bentar yaaa, lagi bokek nih, minggu depan inshaaAllah dibayar” , sebelum ditagih, berusaha menjelaskan kalo emang lagi ga ada duit jadi belom bisa bayar 🙄

Dan sebaliknya kalo ada yang ngutang, ga segan segan deh aku tagih, cuek bebek ajalah kalo dibilang, “ahh cuma segitu doang aja, nagihnya pake banget” , “perhitungan amat” , dan bla bla blaaa…
Secara duit duit sendiri, hak mutlak laah yaa buat nagih *keukeh surekeuh 😀
Setidaknya, membantu si empunya bebas hutang laah yaaa…

Kebiasaan-kebiasaan di atas tentunya emang ada sebab-akibat, ada beberapa hal yang memang membuat aku rada parno sama yang namanya label “hutang”, mau itu di bank, di temen, di tetangga, dimana dan dimana, even itu sifatnya sepele dan nominalnya ga besar.

Pertama,
“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)

Kedua,
Pertanyaan sebelum jenazah akan di sholatkan adalah “Urusan Hutang” . Jika masih ada Hutang, enggan untuk disholati.

Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289)

Inget bangeeet, 14 tahun yang lalu, saat almarhum papa pergi selamanya karena sakit hepatic cancer selama kurang lebih 6 bulan. Tidak ada satu proses pun di hari itu yang aku tidak lihat, kecuali saat dimandikan. Pertanyaan yang diucapkan keras terdengar ke seluruh sudut rumah adalah “Apakah almarhum  memiliki hutang?”.  *alfatihahuntukpapa

Sejak itu, aku takut akan hutang.

Ketiga,
Pengalaman berurusan mengenai aset anggunan hutang dengan bank, yang kemudian masuk lelang. Walaupun pada akhirnya menang, yaaa namanya urusan begini selalu membuat susah tidur 😀
Memang aku ga mengalaminya secara langsung, tapi cukup memberikan efek juga, makanya kita ga pernah mau punya kartu kredit. Cuek bebek lenggang kangkung aja deh kalo ada promo kartu kredit dan tawaran diskon besar-besaran 😀

. . . . . . . . . .

2 Ayat terakhir dari Surat Al Baqarah, yang bisa dibaca setiap hari :
Al Baqarah 285-286

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 285-286)

Yuuuk berdoa….

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan pemaksaan dari orang lain.” (HR Abu Dawud).

Aaamiiin….



0 thoughts on “Punya Hutang itu…..”

  • iya banget mel hidup enteng tanpa utang. dulu di jakarta sy punya banyak kartu kredit. yang ada begitu resign uang pesangonnya abis hanya untuk matiin kartu-kartu tsb #kapok. jadi pelajaran berbarga banget untuk hidup gak lebih dari akses yang dimiliki. salam /kayka
  • Hutang katanya juga membuat terhambatnya pintu rejeki ya. Aku dulu pas kerja wajib bawa kartu kredit. Kartu kredit memang dibuatkan sama kantor. Eh setelahnya aku ikut2an bikin CC. Kapok deh yang namanya CC. Setelahnya aku berikrar ga mau pakai CC lagi. Gesek kartunya sih enak dan ga berasa, giliran bayarnya puyeng haha.
    • Eh katanya klo pakai cc dengan bijak malah menguntungkan sih. Sejujurnya sudah sering kali kepincut sama cc, cuma ya inget 3 hal di atas, jadi ragu lagi dan mikir ulang teruuus ya gitu ga punya punya hihihi
      • Iya kalau pakai CC langsung bayar memang menguntungkan karena buanyaakk sekali promo2 yang ditawarkan oleh rekanan bank. Misalkan buy 1 get 1. Atau malah gratis kalo lagi ada promo. Tapi seringnya kalo pakai CC tar sok tar sok bayarnya. Ya namapun ngutang ya. Akhirnya numpuk dibelakang plus bunga berbunga.
  • Mel kalau CC di Jerman kebanyakan sama fungsinya dengan kartu ATM kok, jd ngga bisa dibuat ngutang 😄 Bedanya cuman kl pake ATM, duit di rekening langsung berkurang saat transaksi (kadang nggak langsung juga ding, makan waktu bbrp hari), kalau pakai CC duitnya berkurang pas akhir bulan, jadi di bank harus ada duitnya. Kalau CC di Indonesia kan kebanyakan memang dipake pas di rekening nggak ada duitnya 😄
      • Iyaaa, aku waktu itu borong frames di Ikea ga bawa cash blas dan ternyata mrk nggak terima CC. Aku deg2an pas ngasih EC krn nggak yakin duitnya cukup eh ternyata transaksi berhasil dan ada minus di rekeningku hihi 🙈 Dulu sempet ngomel juga krn ga bisa ngutang pake CC (mo beli lensa gagal) tp kl ta pikir2, justru baguslah ga bisa ngutang gini 😄
  • Aku ga punya cc Mel, waktu di tanah air mau bikin ditolak bank nya haha. Klo di Jerman pakai cc ga sampai seminggu ditarik uangnya dari rek bank kita, sama aja kan klo pakai kartu debit :D . Kartu debit klo saldonya nol masih bisa dipakai, klo punya suamiku sampai batas 500 euro, waktu buka rek memang minta segitu batasnya, kuatir bablas gesek melulu (bank sebelumnya sampai minus 1.000 euro bisa cuma gawat bayarnya hehe), lagipula klo minus kita harus bayar bunganya.

Leave a Reply


error: Content is protected !!