Holiday in Netherland ?? Part 3

Hari ketiga, rencana rute perjalanan Amsterdam-Gouda-Den Haag -Madurodam-Dam Square Amsterdam. Awalnya rencana rute ini hari tanpa kota Gouda, tapi salah satu temanku, Rurie, yang kebetulan memang tinggal disana, ngajakin lihat Gouda Cheese Market yang terkenal itu. Cek cek ricek waktu antara jam perjalanan kereta, kayanya cukup waktunya dan ga terlalu mepet dan masih bisa menikmati kota Gouda dan Gouda Cheese Marketnya. Sama seperti perjalanan sebelumnya di hari pertama dan kedua, rute perjalanan kereta selalu dicek di website ini  atau bisa juga download aplikasinya di handphone, saat di kereta pun bisa memanfaatkan wifi gratis yang disediakan juga, jadi ga sampe harus nyasar 😉

Sampe Stasiun Gouda, kami dijemput mama dan baby kana lucu, cantik dan sumeeeeh mbanget, kalo udah gini, i want more baby, hahahahahaha…yaaa gimana dikasih yang diatas aja laah yaaa, urusan satu ini bukan aku pun yang atur 😀

Lanjut ke Market Gouda, dari stasiun Gouda cukup hanya dengan jalan kaki, lumayan sekitar 1 km, dengan fasilitas jalan kaki yang nyaman dan sambil ngobrol ga bakal kerasa jauh  kok. Menikmati deretan toko dan pasar tradisional yang kalau di jerman ada di hari Kamis dan Sabtu, disebut Frischmarkt atau Pasar Segar. Melihat tatanan dan kebiasaan serta bahan makanan di Belanda, memang seperti copy paste tanah air. Disini (Belanda) pun banyak pasar biasa (bukan supermarket) dan banyak pula tukang sayur. Beda dengan Jerman, yang hanya ada supermarket kecuali kamis dan sabtu seperti kusebutkan diatas.

Gouda Cheese Market ini, hanya ada saat musim semi dan musim panas, karena terkait juga dengan cuaca lah yaa, dingin kan ga enak berada di luar lama lama. Beroperasi setiap kamis dan dibuka dari bulan April sampai Agustus, waktunya dari jam 9-12, dan biasanya diakhiri dengan semua gelondongan keju laku terjual.

Disini akan diperlihatkan bagaimana penjualan keju tempo dulu, jadi ya ini hanya pertunjukkan tapi tetap kita bisa membeli keju keju tersebut dan mereka menyediakan tester keju juga buat pengunjung. Aku juga mengunjungi salah satu toko keju yang memang langganannya rurie. Di toko tersebut rasa kejunya beragam, dari keju cabe, black pepper, white pepper, wasabi, dan baaanyyyaaak lagi.

“Gouda, Dutch : Goudse kaas, meaning “Cheese from Gouda”) is a Dutch yellow cheese made from cow’s milk. It is named after the city of Gouda in the Netherlands. One of the most popular cheeses worldwide, the name is used today as a general term for a variety of similar cheese produced in the traditional Dutch manner as well as the Dutch original.” source : wikipedia

Dari Gouda, kami lanjut ke Denn Haag yang ternyata juga dekat dari Gouda, namun harus dengan kereta. Gouda-Den Haag hanya beda 1 pemberhentian saja. Sudah rencana disini akan bertemu satu teman lagi, deny dan ingin makan di restoran Indonesia, hasil rekomendasi teman teman,  halal dan rasa tidak mengecewakan. Semua pertama kali kopi darat, tapi rasanyaaaaa kaya udah lama ketemu….senang dan agak beda memang kalo pergi ke satu tempat ada silaturahmi nya 😉

Love you ladies :* <3 <3 <3

Awalnya, aku sama sekali ga ingin ke toko Asia di Belanda ini, laluuuu kena juga kompornya dua cewek cantik ini 😛 , rurie dan deny cerita disini dekat banget sama toko oriental yang luengkaaaappp mbanget dan cucoknya itu jalan kesana juga dilewatin kita kalo mau naik trem, that’s way, kita mampir sekalian dan aku beli tempe 3 papan. Mau borong banyak lagi tuh, males dan inget bawaan berat, jadi yaaa segitu aja, it’s enough laah yaaa 😀

Setelahnya, anak anak udah mulai merengek bosen , kami lanjut ke Madurodam DenHaag dan say good bye deh buat tiga ceweks, ahhhh senangnyaaa… makasih yaaa udah nemenin kita 😉 muaaah muaaah

Kami melanjutkan ke Madurodam dengan trem, sampai disana, anak anak yang tadinya ngantuk langsung ceria deh, liat miniatur dari mulai airport, perairan hingga ke gedung gedung khas negara kincir angin ini.

Beberapa miniatur juga menampilkan sistem kerjanya seperti nyata dan beberapa spot ada permainan anak anak dilengkapi dengan cerita. Saat masuk, kita akan diberikan kartu, yang bisa digunakan ke beberapa komputer di area miniatur ini, jadi anak anak benar benar menikmati.

Besoknya, adalah perjalanan terakhir keliling Amsterdam, pagi pagi kami mengunjungi Museumplein lalu  siang kita pun check out dari penginapan dan kemudian naik ICE balik lagi ke Jerman. Hal yang menguntungkan di penginapan Airbnb ini, kita agak fleksibel dg urusan waktu check in dan check out.

Perjalanan pulang menuju Jerman, kami diskusi dengan anak anak mengenai liburan kali ini. Kakak bilang “Setelah Jerman, Swiss dan Belanda, kapan kita ke Mekkah, bunda” . Haruuuuu deeeh , bundanya 😥 , ga menyangka juga kakak udah minta kesana. InshaaAllah ya nak. Sejak pindah kesini pun topik ini sudah jadi pembicaraanku dan ayah. InshaaAllah diberi kesempatan rezeki sehat untuk bisa mengunjungi Rumah Allah SWT 🙂 aaamiiin

Berikut beberapa hal yang bisa aku simpulkan mengenai negara ini:

1. Belanda, negara yang jauh lebih kecil dari Jerman, jadi mengelilingi negara ini lebih cepat dan tidak butuh waktu banyak daripada mengelilingi kota kota di Jerman

2. Negara ini bisa aku bilang lebih ramai, persis seperti berada di Indonesia

3. Jumlah sepeda dan pengguna sepeda sangat buanyaaak, fasilitas jalanan sepeda pun lebar seperti jalanan mobil (untuk di beberapa tempat). Pengguna sepeda pun ga mengenal cuaca, walaupun dingin tetap dengan sepeda dan ini sangat berbeda dengan di Jerman, dingin dan berangin sedikit, dipastikan pengendara sepeda berkurang banyak dan orang lain sering tanya, kalau aku juga naik sepeda pada saat winter

4. Makanan dan Minuman yang dijual di supermarket, taste nya sama dengan Indonesia, yang kami suka kejunya, jauh lebih gurih dibandingkan Jerman

5. Jangan kaget kalo kembalian 1-2 cent disini tidak dikembalikan, aku sempet kaget, mau marah dan bingung. Beli bunga yang harusnya kembalian 2 cent, si kasir hanya memberi bon kasir, alamaaak untung ga jadi marah ya 😛 ternyata memang demikian adanya. Kebiasaan di Jerman satu cent pun, orang akan hitung, dan tidak menganggap enteng. Karena tipikal warga Jerman menghargai hal yang sangat kecil apapun. Mereka yakin dari kecil inilah yang akan jadi besar. Jadi persis dengan budaya Indonesia ya? anggap impaaas 😀

6. Naik turun trem belanda membutuhkan kartu yang harus di tap setiap naik dan turun, bagiku agak repot menngingat di Jerman ga ada beginian. Masalahnya klo pas turun lupa nge tap, naaah riweuh deh. Gak cuma sekali, kejadian saat turun sibuk nyari itu kartu disimpen di tas bagian yang mana 😎

7. Biaya tiket masuk wisata di Belanda bisa aku bilang cukup mahal, berbeda dengan di Jerman yang tidak lebih dari 10 eur. Hal ini mengingatkanku tanah air kembali, jika kita ingin wisata seperti taman safari, dufan dsb memang membutuhkan kocek yang lumayan untuk dikeluarkan, sehingga tidak semua anak negeri ikut bisa merasakan manfaatnya, sayang kan?

8. Banyak hal di negara ini yang memiliki kesamaan panganan dan kebiasaan dengan tanah air, membuat kami sepakat kalau pulang kampung terdekat ya ke belanda ini. Ternyata sejarah 3,5 abad Hindia belanda itu ga bohong ya, demikian nyata buktinya :mrgreen:

Tulisan cerita liburan part satu, dua dan tiga ini semata mata untuk berbagi pengalaman dan semoga bermanfaat. Karena kami pun mendapat semua info dari internet dan alangkah baiknya juga bermanfaat untuk orang lain 🙂

Salam hangat dari Jerman, yang sudah masuk musim panas yang artinya bulan puasa sebentar lagi 🙂 <3



Leave a Reply


error: Content is protected !!