Perjalanan Bandara Soetta, Jakata – Frankfurt am Main, Germany

Musim Semi 2014

Seperti halnya tulisan Visa Kumpul Keluarga Jerman, cerita ini juga sudah lama ingin aku tulis. Mungkin bagi sebagian yang sering hilir mudik dengan pesawat sudah tidak asing lagi ya, tapi ini ditulis karena inilah pertama kali kami naik pesawat, saya pribadi dan juga anak anak. Pertama kali naik pesawat dan harus terbang selama 14 jam dengan transit satu kali di Dubai, yang katanya airportnya guedeeeee sekaliii. Pertama kali dengan penerbangan yang lama dan membawa 2 balita, sendirian. Yakin deh aku ga sendiri, ada Allah selalu menuntun kami berjalan hingga kami sampai bertemu ayah di Airport Frankfurt am Main.

Hikmah besar dari perjalanan ini adalah aku harus berani, awas diri, percaya diri dan yakin Allah punya teknologi paling canggih yang tidak dimiliki manusia *terimakasih otik Yuliana catatannya* dan satu lagi, menggantungkan harapan semata mata hanya padaNya bukan pada ciptaanNya. Dengan harapan, doa kepada Allah, maka DIA akan mengantarkan banyak tangan tangan orang baik untuk membantu.

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S. Al-Maidah (5): 23)

“dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Alam Nasyrah (94): 8)

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,’ (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (Q.S. At-Taubah (9): 9)

Pesawat kami jam 7 pagi yang berarti harus jalan dari jam 4 menuju bandara, kami berangkat dari Karawaci, kebetulan ada Pakde Eko (kakaknya papa sambungku) yang tinggal disana. Rencana awal berangkat jam 4 ternyata harus ngaret karena anak sulungku susah dibangunin, mungkin kecapekan juga dari Depok lalu karawaci dsb dsb, maklum rumah kami sudah pindah tangan dikontrakkan jadi silaturahmi keluarga sebelum berangkat ke Jerman ya sembari menginap.

Berangkatlah kami jam 4 pagi lewat 20 menit. Perjalanan ternyata juga cukup lumayan walaupun tidak ada macet tapi sempat deg degan karena kami ada salah jalan, aku maklum saja yang mengantar kami kan ber plat BE (Lampung) yang notabene pun tidak familiar dengan jalan menuju Soetta, karena biasanya orang tua kalau naik pesawat langsung dari Lampung (Bandara Branti) dan ga melewati jalur darat. Tapi Alhamdulillah, selama perjalanan dari Lampung hingga Soetta, kakak tiriku bisa mengantar (baca: menyetir) mobil yang kami tumpangi dan ga mungkin kan kalau saat itu papa yang nyetir. Tapi sekarang papa sudah tidak ada, saat kami berada di Jerman sekitar 5 bulanan. *alfatihah untuk papa*

Saat salah jalur dan harus muter, waktu sudah menunjukkan jam 6 pagi, otomatis aku deg deg an dan refleks saja dzikir saat itu, jika rejeki kami berkumpul inshaaAllah masih ada waktu. Begitu sampai, sudah ga ngerti lagi harus bagaimana, menurunkan koper lalu aku pakai potter, yang ada di pikiranku, si potter akan mengantarkan apa yang harus aku lakukan di dalam bandara ini, loket mana yang harus aku tuju. Bahkan saat Potter itu menunjukkan loket aku langsung dibawa ke loket yang tidak perlu ngantri dan dia yang menginformasikan kalau aku membawa bayi. Alhamdulillah….

Walaupun jarak dari depan ke loket ternyata dekat, at least aku jadi tau, gak pakai bingung dan ga perlu angkat koper, bayangkan kalau aku harus antri, gawat bisa ketinggalan mana jalannya kan ga bisa cepat karena sama anak anak juga, yang masih sangat ngantuk pula. Lalu kemudian ke bagian imigrasi, cek ricek selesai dan jalan menuju Gate. Sampai disana suasana sudah agak berbeda alias rambut pirang semua. Aku duduk saja paling depan dan 5 menit kemudian mulai persiapan masuk pesawat. Saat itu adek lagi tidur pules pulesnya di Stroller dan stroller diminta dilipat dan dimasukkan ke plastik, aku saat itu dibantu pramugara nya dan ini otomatis tidak dihitung beban lagi, Alhamdulillah…walaupun saat itu mendadak kerepotan menggendong si adek dan membawa barang barang bawaan yang memang harus ditenteng.

Menunggu masuk pesawat

Masuk pesawat, alhamdulillah kursi kami dipindah, sebelumnya ditengah lalu dipindah ke dekat jendela pesawat, hal ini dilakukan saat di loket awal, dan kursi satu sebelahku kosong jadi Aqila bisa duduk tidur sendiri. Jangan membayangkan waaaah enak yaaa enjoy naik pesawat lihat awan dari atas, hehehehe….mungkin bisa jadi hal ini berlaku buat anak anak, tapi bagiku tidak dan sebisa mungkin aku membuat anak anak senang dan sedikit banyak belajar berada di dalam pesawat.   Saat itu ya bisa jadi aku tidak tenang, bagaimana mau tenang, yang satu tidur yang satu bangun lalu merengek ini itu, tanya lagi kok lama banget sampenya, laper, mau susu, dsb dsb. Apalagi Aqila yang ga bisa diam saja di atas kursi, maunya jalan kesana kemari. Padahal seharusnya kan ga boleh, ditambah dia bosen juga ga mau nonton. Sedangkan kakak Afiqah sempat nangis di kamar mandi, karena bingung cara membuka dari dalam, dia panggil aku. Entahlah ya walaupun tidak kedengaran keluar tapi aku membatin dia manggil manggil dengan nangis dan ternyata benar walaupun jeda manggil dan aku datang tidak lama seh.   Padahal posisi WC mungkin ada di baris ke 6 dari kursiku. Yaaah namanya juga pengalaman. Kakak pun mengambil hikmah pada akhirnya.

Perjalanan Penerbangan pertama

Sebelum berangkat ke Jerman, aku menargetkan beberapa hal, tidak dipaksa tapi mengarahkan. Seperti misalnya, sudah disunat di Indonesia, mulai bisa membaca Al Quran dan bahasa Indonesia, bisa bersepeda dan tau rambu rambu lalu lintas, makan, minum, tidur, solat dan berpakaian sudah faham dan bisa dilakukan sendiri. Alhamdulillah dari sekian yang aku list, yang belum terpenuhi bacaan ngaji yang baru sampai Iqra 6, tapi sedikit lagi selesai dan bacaan salat yang memang belum aku ajarkan (saat itu Afiqah umur 5 tahun).  Aaaah rasanya aku ingin peluk anak bunda yang soleh ini…. Dan kenyataannya sekarang, apa yang aku persiapkan memudahkan kakak untuk bersekolah disini. Dan untuk urusan waktu salat aku tidak perlu mengingatkan lagi. Tak henti hentinya deh penuh syukur Alhamdulillah…Penerbangan pertama usai selama 7 jam dan transit lah kami di Dubai, yang berarti ini landing kami yang pertama kali, telinga sakit dan anak anak sudah kuberi permen, mungkin karena kami tidak membiasakan diri makan permen dan manis manis buatan luar atau kemasan, jadi anak anak menolak dan lebih memilih biskuit dan merasakan sakitnya telinga yang bisa kubilang luar biasa *ndeso banget yak :P* yang ada dipikiran sih bukan kampungan, tapi dari ketinggian untuk turun saja telinga kita sakit betapa kecilnya kita di hadapan Illahi, bukannya ini waktunya bermusahabah diri? Sudahkah cicilan kita cukup untuk membangun kehidupan akhirat?

Tibalah kami di Dubai Airport, saat transit ini, aku ga faham jalan kemana dan apa, tapi melihat banyak orang menuju satu loket pemeriksaan dan melihat pengumuman penerbangan menuju Frankfurt hanya ada di Gate 21, alhamdulillah sepanjang jalan melangkah hanya maju dan tidak perlu berputar balik, yang artinya arah yang aku pilih benar. Waktu menunggu hingga Gate dibuka pun agak lama, jadi anak anak bisa main dulu lari sana sini.

Gate A21
Anak anak bermain sambil menunggu Gate dibuka
Dubai Airport

Saat Gate dibuka dan pemeriksaan, alhamdulillah pemeriksaanku tidak terlalu rumit dan tidak tertahan seperti yang lainnya, mungkin karena membawa balita ya? Wallahuallam. Begitu masuk Gate ini suasana agak lebih berbeda, bahasa Jerman yang kudengar tidak lagi seperti yang kudengar di Goethe dengan aksen Indonesia melainkan dengan aksen asli dan tidak ada ngobrol dengan bahasa Inggris. Tapi pengumuman mah tetep dengan bahasa universal, jadi ya masih mudeng  :)Di Penerbangan kedua ini pun kami dipindah agar Aqila juga nyaman bisa duduk sendiri, dan  ternyata duduk dibelakang jauh lebih enak daripada di depan, walaupun di depan untuk kaki jadi lebih luas. Dan di penerbangan kedua ini anak anak aku bawa nyanyi sampe mereka tidur pulas. Aku? yaaaa tetep melek terus selama selama 7 jam kedepan 😀

Saat landing yang kedua, anak anak sudah mau mengunyah karena tau kondisi sebelumnya. Alhamdulillah jauh lebih ringan ^^. Saat keluar aku rombongan paling terakhir karena harus repot tali temali gendong Aqila yang saat itu tidur pulas. Saat pemeriksaan pun lancar bahkan sampai aku ketinggalan rombongan pesawat karena harus berhenti beberapa kali. Tibalah kami menunggu koper, dan koper datang, aku siap mengangkat namun seorang laki laki dewasa membantu mengangkat koperku, bahkan pemuda jerman pun ikut membantu mengangkat 2 koper lainnya. Total aku membawa 3 koper dengan berat total sekitar 70 kg (batas maks). Saat itu aku ingin mengambil trolley tapi tidak faham bagaimana caranya, seorang perempuan paruh baya memberikan aku koin yang ternyata bernilai 2 eur, sebagai jaminan mengambil trolley, maklum aku kan ga melakukan penukaran uang koin dan memang sepertinya tidak ada di money changer. Alhamdulillah, Allah mengantarkan banyak tangan tangan baik lewat mereka. Bahkan mereka membantu menaikkan koper koperku yang berat itu ke trolley tanpa membedakan pakaianku yang mengenakan jilbab, subhnallah semoga Allah membalas kebaikan mereka aamiiin… dan tentunya tidak lupa pun aku mengucapkan terimakasih banyak ^__^

Saat akan keluar aku teringat dengan stroller yang harus aku ambil di lokasi paling belakang dan lumayan jauh, saat itu yang aku pikirkan adalah memindahkan Aqila yang sedang pulas tidur ke stroller dan mulai mendorong satu satu trolley koper dan stroller sambil bergandengan dengan kakak Afiqah yang sempoyongan karena ngantuk berat. Ahhh that’s how strong a mom is! Kami pun lagi lagi keluar paling akhir, sampai diluar bukan adegan kaya sinetron ga ketemu lama sama pacar hahahahah…. melainkan secepatnya naik kereta karena udara dingin dan anak anak bisa melanjutkan tidur. Aku? ngantuk campur senang, seperti ada perasaan lega dan beban sedikit berkurang karena ada ayah ^__^. Di Kereta Ayah cerita tadi pas menunggu sampai bingung, kenapa rombongan sudah habis bunda dan anak anak belum juga keluar. Hihihihi….dia belom tau betapa riweuhnya di dalam, yang satu tidur yang satu lagi ribut ngantuk banget 😀

Siap siap keluar Frankfurt Airport
Stasiun Frankfurt bersiap menuju Mannheim

Kami tiba di stasiun Mannheim sekitar pukul 20.00 waktu setempat lalu melanjutkan perjalanan dengan trem ke halte dekat rumah, yang ternyata masih harus berjalan sekitar 700 m dengan membawa 3 koper, saat kami turun trem alhamdulillah ada seorang mahasiswi berkebangsaan India yang membantu membawa koper kami bahkan sampai depan rumah kami, lalu dia kembali melanjutkan perjalanannya yang katanya ke rumah temannya. Alhamdulillah…

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS. Ali Imran (3): 160)

Dan dimulai dari saat itulah petualangan kami di negeri dongeng ini dimulai ^__^

Sekarang Alhamdulillah kami sudah lebih settled, adaptasi dan nyaman, keperluan 4 musim untuk anak anak juga sudah lengkap, demikian juga urusan sekolah kakak, tinggal nanti urusan sekolah Aqila. Semoga nanti urusanku dan ayah juga lancar dan cita cita kami tercapai, memperoleh ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi orang banyak aamiiin….

Musim Gugur 2014

Dari Perjalanan ini, penting yang diingat untuk dibawa ketika terbang bersama balita :
1. 4-5 pak susu cair UHT ukuran sedang sekali minum
2. 2 macam biskuit yang disukai dan mudah digenggam
3. 3-5 diapers, kalau membawa bayi tentunya bawa lebih banyak
4. Botol minum yang mudah diisi dan mudah juga diminum (prefer ada sedotannya)
5. Kotak makan kosong yang sedang, biasanya ketika disuguhi snack dan anak anak tidak suka kita bisa menyimpannya karena bisa jadi setelah piring diangkat anak anak baru mau lagi >_<
6. Buku bacaan cerita yang disukai anak anak

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi catatan juga buat kami pribadi 🙂



0 thoughts on “Perjalanan Bandara Soetta, Jakata – Frankfurt am Main, Germany”

Leave a Reply


error: Content is protected !!