Anakku terlambat bicara, speech delayed 4 END


Setelah hari itu asessment jam 8 pagi selesai jam 10, aku langsung ambil appointment jadwal terapi dan dimulai hari itu juga karena jadwalnya salah satu therapist ada yang kosong. Therapist di klinik ini sebagian besar adalah lulusan D3 pendidikan tumbuh kembang anak *aku lupa jurusan spesialisnya apa* dan merupakan bimbingan dari Dr Tri Gunadi.
Hal yang sangat menggembirakan kakak mulai dari jam 8 Assesment dilanjut terapi 2x 1 jam dengan 2 macam jenis terapi sama sekali tidak menunjukkan bosan, jenuh atau lelah, dia sangat SENANG !
Hasil terapi, dia termasuk anak ADHD, intinya hiperaktif, namun dalam kondisi yang tidak berat. Aku diminta untuk memantau makanannya dan menghindari kakak untuk makan makanan yang menganduung :
1. Gluten, berupa tepung terigu dsb, jadi alangkah baiknya menggunakan tepung tanpa gluten, seperti tepung beras, tepung ketan, tepung sagu, dsb
2. Cokelat, pemicu aktif anak salah satunya coklat, jadi sebaiknya dihindari
3. Gula, tidak diperkenankan makan apapun yang mengandung gula termasuk saat memasak apalagi makan kue
Sejak itu aku berhenti buat kue, kalau udah begini yang ikut puasa kue ya ayah, karena dia penggemar kue dan coklat. Sejak ini belanjaan aku alihkan untuk membeli lebih banyak sayuran hijau dan buah, beruntung anak anak dan ayah juga ga pernah aku biasakan beli biskuit, snack atau gorengan dari luar, jadi merubah pola makan ini tidak terlalu sulit, hanya pembiasaan diri.
Hasil jadwal terapi yang harus diikuti sebanyak 6 jam seminggu yang dibagi menjadi 3, jadi 3x seminggu, hari Senin, Rabu dan Jum’at. Terapi yang diikuti :
1. Terapi wicara
2. Terapi behaviour
3. Sensori Integrasi
*pembagian jamnya aku lupa, nanti klo ketemu buku catatannya aku tulis lagi ya
Jadi sejak hari pertama, makanan yang dimakan kakak sudah aku jaga. Hasilnya alhamdulillah terlihat di hari pertama, dia bisa tidur jam 8 malam ! Biasanya jam 1 pagi baru tidur dan maunya lariaaan aja. Selain kebiasaan makan, di rumah sudah aku tulis jadwal kakak ngapain aja, misalnya pulang dari terapi makan, lalu dilanjut main sambil nyanyi, lompat dan berlarian, kemudian ngaji, lalu bermain kata buah buahan, kendaraan, pakaian, hewan, alat tulis, dsb dsb dan satu lagi kegiatan meniup balon atau meniup lilin, karena ini salah satu cara merangsang dia untuk mengeluarkan suara.
Selama proses terapi bahkan hingga sekarang, aku sangat ketat memberikan izin menonton kartun, games atau sebagainya. Karena salah satu pemicu anak malas bicara adalah terlalu banyak menonton tv dan bermain games sehingga tidak ada ruang komunikasi dua arah yang didapatnya. Jadi Hal hal yang sebaiknya dilalakukan terhadap anak dibawah 5 tahun :
1. Waktu menonton tidak lebih dari 2 jam sehari, prakteknya aku stop nonton dan berasa ga punya tv ^_^
2. Sering bercerita apa saja sebelum tidur ditambah hafalan Juz Amma
3. Kegiatan yang menanyakan pendapat dengan menggunakan kata tanya Apa, Kapan, Berapa, Siapa, Bagaimana, Mengapa, dsb
4. Mengaji Iqra walaupun dia belum ingat huruf dan namanya, at least pengucapan huruf hijayah membuat rahangnya bergerak berbeda dan berusaha melafazkan semua huruf hijaiyah
5. Tidak memberikan bahasa asing terlalu dini
Adakah perubahan? Ada jelas. Karena terapi? Bukan hanya terapi, terapi adalah salah satu sarana yang bisa orang tua juga pelajari bagaimana diterapkan di rumah. Karena di klinik ini orang tua berhak untuk melihat dari cctv. Tapi hal yang PALING PENTING adalah kemauan orang tua untuk support anak total dan tidak diberikannya peran ini ke orang lain. Karena itulah sejak itu aku memutuskan resign. Tidak ada lagi pikiran lanjut sekolah atau bekerja, aku ga perduli lagi orang sekitar membicarakan hal hal yang membuat aku down, aku hanya percaya dan mencari teman teman yang punya pikiran positif.
Seiring berjalannya terapi, kemajuan kakak sudah semakin baik. Gak lama aku daftarkan kakak ke taman bermain RE di Depok 2 tengah, yang metode belajarnya bagus banget, memang di gang dan tidak bonafit keliatannya, tapi jangan salah, pengajarnya aku bisa kasih jempol 10 deh, kontak anak didiknya luar biasa, selalu menyanyi dan bergerak, kegiatan rutin anak ga membuat bosen dan sama sekali tidak takut kotor *hal ini aku temukan juga di Kindergarten Jerman, saat ini aku tinggal di Jerman*. Alhamdulillah nya jadwal taman bermain ini pas banget 2x seminggu di hari Selasa dan Kamis, jadi sama sekali tidak perlu mengubah jadwal terapi.
Selain itu, di waktu luang, aku jadi lebih sering berkunjung ke rumah teman yang punya anak lebih dari satu, supaya ada interaksi sosial dengan kakak, walaupun kakak ga banyak bicara, setidaknya dia belajar juga bagaimana harus bersikap di rumah orang lain. So far so good, kalau di rumah orang lain dia tidak terlalu aktif beda dibandingkan di rumah sendiri, rumah eyangnya atau sepupunya.
Hal yang sangat aku perhatikan bagaimana dia konsentrasi terhadap sesuatu hal. Selama aku beri kegiatan belajar main bersama di rumah, aku selalu mencatat, hari ini dan seterusnya. Di awal, bisa dibilang konsentrasi terhadap satu hal hanya lima menit dan tiap lima menit harus berpindah jenis kegiatan. Bayangkan berapa banyak kegiatan yang aku siapkan tiap hari untuk menghabiskan waktu sepulang terapi sampai waktu magrib, dari jam 12 siang hingga jam 18.00. Semakin hari lamanya fokus terus bertambah menjadi 8 menit, 10 menit, 15 menit dan seterusny. Sekarang dia sudah 6 tahun, fokusnya sudah sangat baik, klo belum selesai mengerjakan sesuatu ya ga akan berpaling ke lain hal. Tapi yang paling penting aku tidak membawanya untuk stres tapi lebih kepada kegiatan yang menyenangkan dan menarik, namanya juga anak anak, kegiatan apa sih yang ga menyenangkan ?
Terapi Yamet ini, aku ikutin selama 7 bulan, bulan berikutnya aku harus melahirkan anak ke 2. Jadi selama terapi ini semua aku awasi sendiri, sambil bawa mobil pertama kali nekat dan ternyata aku hamil. Alhamdulillah hingga hamil 8 bulan masih nyetir nganter sana sini, berguna banget pokoknya berani nyetir, ga perlu mengandalkan orang lain karena apalagi sampe ganggu jam kerja ayah, karena ga setiap hari kan ayah bisa punya waktu, kasihan nanti kerjaannya malah berantakan.
Ikutan partisipasi di 17 agustus komplek 🙂

Hal positifnya, sifat aktifnya kakak aku salurkan ke alat alat bermain seperti sepeda, scooter atau sepatu roda. Alhamdulillah umur 4 tahun dia sudah bisa roda 2 lancaaaar, sejak bisa sepeda roda 2, meluncur deh ke rumah eyang atau temen temennya sekomplek sendiri, kadang aku dibuat kalang kabut juga hehehehe…
Saat ini, kami tinggal di Jerman, cedalnya memang sedikit memudar tapi berhubung dia bersekolah di Sekolah berbahasa pengantar Jerman, ucapan bahasa Jermannya lebih bagus dari pada aku, heheheh jadi bukan cedal buatan tapi emang apa adanya 🙂 Bahasa Indonesianya semakin bagus dan Bahasa Jermannya pelan pelan bertambah, walau terkadang dia suka lupa malah bicara bahasa Inggris sedikit, karena notabene bahasa kedua penduduk Indonesia adalah bahasa Inggris. Pernah suatu waktu di Kindergarten, dengan cueknya dia berhitung dengan temannya menggunakan bahasa inggris, lalu Erzieherin (Guru TK) nya mengarahkan untuk berhitung dalam bahasa Jerman. Aku yang liat cukup senyum saja dan tidak terlalu menekannya untuk bisa dengan cepat. Melihatnya bisa berbaur main dengan teman teman baru, aku sudah lega. Surprisenya, hampir semua anak di Kindergartennya tau namanya, jadi setiap dia datang dan buka lokernya, selau disambut panggilan anak anak lain dari umur 3-5 tahun “Hallo Afiqah” 🙂
Sekarang dia masuk di kelas persiapan bahasa, kelas ini sudah tidak lagi di Kindergarten melainkan sudah di Schule (SD). Jadi belum masuk kelas 1 SD. Namun, setelah 3 bulan di kelas ini ternyata menjadi perhatian gurunya, aku diinformasikan ada rencana pemindahan Afiqah untuk langsung masuk ke erste Klasse (kelas 1) secepatnya, masalah bahasa sepertinya dia akan bisa mengikuti karena selama ini disekolah tidak ada masalah dengan komunikasi antar teman ataupun dengan guru. Surprise dan alhamdulillah tentunya, at least aku bisa menyimpulkan, Afiqah sanggup menerima tantangan baru dengan bahasa yang jelas sangat berbeda sekalipun terlambat bicara. Segala Puji hanya bagi Allah, yang Maha Mengetahui, pemilik segala Ilmu, Bumi dan seisinya… Alhamdulillah…

Sibuk di acara Kindergarten Aubuckel dengan sahabatnya

 



0 thoughts on “Anakku terlambat bicara, speech delayed 4 END”

  • Salam kenal mba :) mau nanya taman bermain RE itu tepatnya dmana? Anak saya akan mulai terapi di Yamet depok jg dan saya ada pertimbangan utk menyekolahkannya jg klo dirasa anaknya mau. Trims before :)
  • Hai mba, salam kenal, saya punya anak umrnya 2,5thn yg termasuk adhd juga, boleh tau gak, kegiatan apa aja yg bisa melatih fokusnya ? Thanks seblumnya
    • Mba Ayu, maafkan saya late respon. Untuk rentang konsentrasi anak 1 menit x umurnya jadi untuk 2,5 tahun = 2,5 menit. Jadi permainan dan aktivitas harus berganti setelah 2,5 menit ini. Nanti kelama-lamaan akan naik, karena anak anak sudah bisa memilih permainan apa yang disenangi. Kegiatan yang bisa melatih fokus, banyak sekali, bisa dengan mendengarkan cerita seru bundanya, mengaji bersama, memasukkan benda sesuai bentuk, menyusun balok permainan, dsb Semoga membantu <3

Leave a Reply


error: Content is protected !!