Anakku terlambat bicara, speech delayed 3

Setelah konsultasi di salah satu RS anak di daerah cibubur, aku mendapati pemeriksaan dokter anak yang hanya menginterogasi orang tua dan sama sekali tidak menyentuh anak, jadi jawaban yang aku berikan disimpulkan oleh si dokter. Karena kurang sreg aku ga melanjutkan lagi pemeriksaan di sini.

Lanjut pemeriksaan di RS Harapan Kita untuk cek ke THT dan EEG bagian syaraf. Hasil dari THT dengan pemeriksaan dokter tanpa pemeriksaan intensif gelombang suara, dokter menjelaskan tidak ada masalah dengan pendengarannya, malah si dokter yakin tidak ada masalah dengan kakak, hanya dia aktif dalam segala hal. Saat ingin melakukan pemeriksaan EEG ternyata harus appointment dulu dan pasien harus dalam keadaan tidur, akhirnya kami menunda pemeriksaan ini dan kemudian menganggap pemeriksaan ini tidak terlalu perlu.
Hal yang paling puas untukku, saat pemeriksaan terakhir di klinik Yamet Depok oleh dokter Tri Gunadi, dengan didampingi satu psikolog lagi, dia memeriksa kakak Afiqah selama satu jam penuh di ruangan bermain untuk eksplorasi tanpa kehadiranku, aku hanya bisa melihat assesmentnya melalui CCTV di ruang tunggu. Setelah melakukan pengamatan dan penilaian terhadap kakak, baru aku diminta masuk untuk diskusi dan beliau menjelaskan panjang lebar mengenai kakak. Aku faham dengan penjelasan si dokter dan si dokter juga faham dengan apa yang aku jelaskan, komunikasi 2 arah dengan penjelasan yang tidak men down kan aku sebagai orang tua seperti mendapatkan angin segar untukku. Bagaimanapun tidak ada yang ingin anaknya terlambat bicara bukan??
Hal yang lumrah namun tak patut ditiru sempat aku alami, bukan ejekan tapi penilaian orang lain yang terlalu dini bahkan menyudutkanku sebagai ibu. Mereka bilang di depan orang banyak “Mel, anakmu autis tuh, sampe sekarang belum bicara dan ga bisa diem” atau “Anaknya punya penyakit aneh!” atau juga “Kebanyakan buat kue sih, anaknya ga diurusin”. Kalimat kalimat tersebut ga perlu didengar, bagiku mereka bukan dokter tapi berani menilai, tidak berilmu tapi berani bicara, karena jika orang berilmu mengenai hal ini, dia bukan memberi penilaian negatif tapi memberikan support dan solusi, bukan begitu?
 
Jadi banyak tawakkal dan istighfar saja. Di tahap ini seperti mendapat pencerahan kalau semua anak itu unik meraka punya fasenya masing masing, tidak bisa disamaratakan atau bahkan mengambil panutan juklak secara umum. Anak anak punya kelebihan yang lain daripada yang lain. PR bagi orang tua adalah menemukan bakat dan kelebihan si anak dan mengarahkannya ke hal hal yang positif. Yuk jadi orang tua yang POSITIF ! 🙂
Siapa yang ga gemes lihat anak bunda ganteng gini ?
Cerita yang terakhir disini
 

 



0 thoughts on “Anakku terlambat bicara, speech delayed 3”

Leave a Reply


error: Content is protected !!