Month: November 2014

Visa Kumpul Keluarga ke Jerman

Visa Kumpul Keluarga ke Jerman

Sebelum membaca artikel ini, sebaiknya membaca ini dulu…. Bismillahirrahmanirrahiiim… sudah lama ingin nulis sharing pengalaman bagaimana bisa berkumpul keluarga di Jerman. Aku seorang istri dari calon Phd yang berstatus student (di Jerman seorang calon Phd bisa juga berstatus sebagai Mitarbeiter/ pekerja) dan mempunyai 2 orang […]

Pumpkin Cheesecake, Kürbis Käsekuchen

Pumpkin Cheesecake Musim gugur mau berakhir, selain musim apel dimana mana, si pumpkin atau si Kürbis juga ikutan banyak, apalagi kalau sudah akhir bulan oktober, pasti muncul deh yang ukuran besar, identik dengan Hallowen soalnya 🙂 tergiur juga deh untuk membeli, tapi selama 2 minggu […]

Anakku terlambat bicara, speech delayed 4 END


Setelah hari itu asessment jam 8 pagi selesai jam 10, aku langsung ambil appointment jadwal terapi dan dimulai hari itu juga karena jadwalnya salah satu therapist ada yang kosong. Therapist di klinik ini sebagian besar adalah lulusan D3 pendidikan tumbuh kembang anak *aku lupa jurusan spesialisnya apa* dan merupakan bimbingan dari Dr Tri Gunadi.
Hal yang sangat menggembirakan kakak mulai dari jam 8 Assesment dilanjut terapi 2x 1 jam dengan 2 macam jenis terapi sama sekali tidak menunjukkan bosan, jenuh atau lelah, dia sangat SENANG !
Hasil terapi, dia termasuk anak ADHD, intinya hiperaktif, namun dalam kondisi yang tidak berat. Aku diminta untuk memantau makanannya dan menghindari kakak untuk makan makanan yang menganduung :
1. Gluten, berupa tepung terigu dsb, jadi alangkah baiknya menggunakan tepung tanpa gluten, seperti tepung beras, tepung ketan, tepung sagu, dsb
2. Cokelat, pemicu aktif anak salah satunya coklat, jadi sebaiknya dihindari
3. Gula, tidak diperkenankan makan apapun yang mengandung gula termasuk saat memasak apalagi makan kue
Sejak itu aku berhenti buat kue, kalau udah begini yang ikut puasa kue ya ayah, karena dia penggemar kue dan coklat. Sejak ini belanjaan aku alihkan untuk membeli lebih banyak sayuran hijau dan buah, beruntung anak anak dan ayah juga ga pernah aku biasakan beli biskuit, snack atau gorengan dari luar, jadi merubah pola makan ini tidak terlalu sulit, hanya pembiasaan diri.
Hasil jadwal terapi yang harus diikuti sebanyak 6 jam seminggu yang dibagi menjadi 3, jadi 3x seminggu, hari Senin, Rabu dan Jum’at. Terapi yang diikuti :
1. Terapi wicara
2. Terapi behaviour
3. Sensori Integrasi
*pembagian jamnya aku lupa, nanti klo ketemu buku catatannya aku tulis lagi ya
Jadi sejak hari pertama, makanan yang dimakan kakak sudah aku jaga. Hasilnya alhamdulillah terlihat di hari pertama, dia bisa tidur jam 8 malam ! Biasanya jam 1 pagi baru tidur dan maunya lariaaan aja. Selain kebiasaan makan, di rumah sudah aku tulis jadwal kakak ngapain aja, misalnya pulang dari terapi makan, lalu dilanjut main sambil nyanyi, lompat dan berlarian, kemudian ngaji, lalu bermain kata buah buahan, kendaraan, pakaian, hewan, alat tulis, dsb dsb dan satu lagi kegiatan meniup balon atau meniup lilin, karena ini salah satu cara merangsang dia untuk mengeluarkan suara.
Selama proses terapi bahkan hingga sekarang, aku sangat ketat memberikan izin menonton kartun, games atau sebagainya. Karena salah satu pemicu anak malas bicara adalah terlalu banyak menonton tv dan bermain games sehingga tidak ada ruang komunikasi dua arah yang didapatnya. Jadi Hal hal yang sebaiknya dilalakukan terhadap anak dibawah 5 tahun :
1. Waktu menonton tidak lebih dari 2 jam sehari, prakteknya aku stop nonton dan berasa ga punya tv ^_^
2. Sering bercerita apa saja sebelum tidur ditambah hafalan Juz Amma
3. Kegiatan yang menanyakan pendapat dengan menggunakan kata tanya Apa, Kapan, Berapa, Siapa, Bagaimana, Mengapa, dsb
4. Mengaji Iqra walaupun dia belum ingat huruf dan namanya, at least pengucapan huruf hijayah membuat rahangnya bergerak berbeda dan berusaha melafazkan semua huruf hijaiyah
5. Tidak memberikan bahasa asing terlalu dini

Anakku terlambat bicara, speech delayed 3

Setelah konsultasi di salah satu RS anak di daerah cibubur, aku mendapati pemeriksaan dokter anak yang hanya menginterogasi orang tua dan sama sekali tidak menyentuh anak, jadi jawaban yang aku berikan disimpulkan oleh si dokter. Karena kurang sreg aku ga melanjutkan lagi pemeriksaan di sini. […]


error: Content is protected !!